Upaya Membentuk Karakter Bangsa Melalui Bahasa dalam Pembelajaran

Upaya Membentuk Karakter Bangsa Melalui Bahasa dalam Pembelajaran

Amongguru.com. Upaya Membentuk Karakter Bangsa Melalui Bahasa dalam Pembelajaran dapat dilakukan untuk mengimplementasikan pendidikan karater dalam kehidupan.

Bahasa adalah hal yang mendasar dalam sebuah hubungan. Bahasa merupakan syarat utama dari komunikasi. Keterikatan antara bahasa dengan manusia menyebabkan bahasa selalu berubah seiring perubahan kegiatan manusia dalam kehidupannya di masyarakat.

Perubahan bahasa dapat mengalami pengembangan dan juga kemunduran sejalan perubahan yang dialami masyarakat itu sendiri.

Bahasa harus dapat dijaga dan dilestarikan oleh manusia seiring dengan perubahan jaman. Pada tataran pendidikan formal, bahasa Indonesia digunakan untuk penyelenggaraan pembelajaran.Melalui bahasa Indonesia, akan terjadi interaksi aktif antara guru dengan peserta didik, sehingga transfer ilmu dari  guru dapat berlangsung dengan lancar.

Kemampuan berbahasa tidak hanya sekedar menulis dan berbicara saja, tapi juga harus didukung dengan kemampuan menyimak dan membaca. Karakter peserta didik juga akan tampak dari kesan yang ditampilkan ketika sedang berbicara.

Demikian pentingnya fungsi bahasa dalam kaitannya dengan pembentukan karakter peserta didik, maka pembelajaran bahasa Indonesia yang diajarkan di sekolah harus mampu memberikan andil lebih terhadap fungsi tersebut.

Upaya Membentuk Karakter Bangsa Melalui Bahasa dalam Pembelajaran

Guru diharapkan memiliki upaya membentuk karakter bangsa melalui bahasa dalam pembelajaran, khususnya pada pembelajaran bahasa Indonesia.

Kita harus mengakui bersama bahwa sekarang ini bahasa Indonesia semakin hilang kekentalannya seiring perkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sikap hidup pragmatis dari sebagian besar masyarakat Indonesia mengakibatkan semakin terkikisnya nilai luhur budaya bangsa.

Upaya Membentuk Karakter Bangsa Melalui Bahasa dalam Pembelajaran

Budaya kekerasan dan anarkisme sosial ikut memperparah kondisi sosial budaya bangsa Indonesia. Nilai kearifan lokal yang santun, ramah, saling menghormati, arif, dan religius seakan tereduksi oleh gaya hidup instan dan modern.

Penggunaan ungkapan-ungkapan asing sekarang menjadi hal yang biasa bagi peserta didik.

Penyerapan kata asing yang sudah ada padanannya dalam Bahasa Indonesia sebaiknya dihindari, karena hanya akan menghilangkan nilai-nilai luhur budaya dan sastra Indonesia.

Bahasa merupakan penanda identitas dan karakter suatu bangsa. Sehingga karakter bangsa Indonesia dapat diketahui dari bahasa yang digunakannya.

Di dalam upaya membentuk karakter bangsa melalui bahasa dalam pembelajaran, maka menyisipkan nilai-nilai karakter dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat dilakukan antara lain dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan situasi, seperti melalui diskusi dan kegiatan bermain peran.

Melalui diskusi dan bermain peran dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, peserta didik dapat melakukan olah rasa, olah batin, dan olah budi secara intens sehingga secara tidak langsung peserta didik memiliki perilaku dan kebiasaan positif melalui proses apresiasi dan berkreasi melalui karya sastra.

Peserta didik juga dapat diajak untuk menggunakan media cetak maupun media elektronik sebagai alat bantu pembelajaran bahasa Indonesia. Siaran media yang semakin maju, memiliki pengaruh besar terhadap kemajuan suatu bangsa dan dapat mempengaruhi karakter serta sikap masyarakat.

Guru akan dapat lebih memanfaatkan media tersebut untuk menyisipkan nilai-nilai karakter dalam pembelajaran.

Dari segi positif, media berperan memberikan informasi berbagai situasi yang terjadi, baik di dalam maupun luar negeri, sehingga dapat ditumbuhkan nilai-nilai semangat kebangsaan, toleransi, cinta tanah air, dan cinta damai.

Media juga berperan dalam membimbing masyarakat, misalnya cara bercocok tanam, tips kesehatan, dan trik tentang berbisnis.

Jika hal ini diterapkan pada pembelajaran dan selanjutnya diaktualisasikan dalam kehidupan, maka akan menumbuhkan nilai-nilai karakter dalam diri peserta didik, seperti rasa peduli lingkungan, percaya diri, mandiri, dan bekerja.

Upaya Membentuk Karakter Bangsa Melalui Bahasa dalam Pembelajaran

 

Sastra secara etimologis berasal dari kata sas dan tra. Arti kata sas adalah mendidik, mengajar, memberikan instruksi. Sedangkan akhiran -tra menunjuk pada alat.

Jadi, sastra secara etimologis berarti alat untuk mendidik, alat untuk mengajar, dan alat untuk memberi petunjuk. Sehingga, sastra pada jaman dahulu bersifat edukatif.

Indonesia adalah negara yang kaya akan akar budaya dan menyimpan khasanah karya sastra klasik yang sangat Naskah-naskah sastra klasik Indonesia dari berbagai daerah dapat berbentuk pantun lama, pantun, gurindam, karmina, mantra, dan prosa.

Sastra-sastra klasik tersebut tentu mengandung muatan-muatan nilai budaya dan moral yang tinggi. Sebagai negara yang memiliki beragam budaya dan tradisi nilai-nilai luhur, memperkenalkan karya-karya sastra lama merupakan jembatan pendidikan moral yang efektif.

Sastra sangat relevan dengan pendidikan karakter. Karya sastra sarat dengan nilai-nilai pendidikan akhlak seperti dikehendaki dalam pendidikan karakter. Melalui karya sastra peserta didik bisa belajar dan bergaul secara langsung tentang berbagai karakter mulia.

Cara orang-orang tua dahulu menanamkan nilai-nilai luhur melalui dongeng tentang tokoh-tokoh yang memiliki karakter kuat mampu terserap ke dalam alam logika dan hati nurani anak hingga terbawa sampai dewasa.

Cerita rakyat banyak mengandung nilai pendidikan tentang kemanusiaan. Cerita binatang mengandung pendidikan tentang harga diri, sikap kritis, dan protes sosial. Sementara itu, bentuk puisi seperti pepatah, pantun, dan bidal juga penuh dengan nilai pendidikan.

Sikap toleran, moderat, rendah hati, kreatif, empati, dan nilai-nilai budi pekerti yang terkandung dalam sastra sangat kuat mengakar ke dalam memori anak dan dapat diaplikasikan dalam kehidupannya sehari-hari.

Hal ini menunjukkan bahwa melalui pendidikan bahasa Indonesia dapat membentuk karakter bangsa. Pembelajaran sastra bagi peserta didik sebaiknya diberikan dalam porsi waktu yang sesuai, baik sastra klasik maupun sastra modern.

Pembelajaran sastra juga hendaknya diarahkan pada tumbuhnya sikap apresiatif terhadap karya sastra, yaitu sikap menghargai karya sastra. Di dalam pembelajaran sastra tidak harus didominasi dengan membaca karya sastra saja.

Di dalam pembelajaran sastra perlu ditanamkan tentang pengetahuan karya sastra (kognitif), ditumbuhkan kecintaan terhadap karya sastra (afektif), dan dilatih keterampilan menghasilkan karya sastra (psikomotor).

Pada kegiatan apresiasi terhadap karya sastra, maka pikiran, perasaan, dan kemampuan motorik peserta didik dapat dilatih dan dikembangkan. Melalui kegiatan ini, pikiran peserta didik akan menjadi kritis, perasaan menjadi lebih peka dan halus, dan kemampuan motorik meningkat.

Ketiga ranah tersebut (pikiran, perasaan, dan kemampuan motorik) merupakan modal dasar dalam pengembangan pendidikan karakter. Menjadikan bahasa dan sastra sebagai media dalam pencerdasan dan pembentukan karakter bangsa, membutuhkan sebuah proses. Untuk mengoptimalkan peran tersebut, kemauan apresiator sangat menentukan keberhasilan.

Jika ada kemauan yang kuat dari seorang apresiator untuk berapresiasi secara total dan selanjutnya dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, tentu karakter bangsa akan mudah terbentuk.

Peserta didik sebagai bagian dari apresiator, harus memiliki pikiran kritis, kepekaan perasaan yang tinggi, dan ketrampilan motorik yang baik untuk dapat mengapresiasi bahasa dan karya sastra secara optimal.

Secara tidak sadar maka peserta didik telah membentuk karakter bangsa dalam dirinya sesuai dengan nilai kebajikan dalam bahasa dan sastra.

Silahkan dibaca juga :

Demikian artikel tentang Upaya Membentuk Karakter Bangsa Melalui Bahasa dalam Pembelajaran

Semoga  bermanfaat sebagai referensi bacaan Anda.

 

Tinggalkan Balasan