Sistem Among: Cara Membina Pramuka Siaga, Penggalang, Penegak, dan Pandega

Sistem Among: Cara Membina Pramuka Siaga, Penggalang, Penegak, dan Pandega

Amongguru.com. Hubungan antara Pembina Pramuka dengan peserta didik merupakan hubungan yang khas. Setiap Pembina Pramuka harus memperhatikan perkembangan mitra didiknya secara pribadi, agar perhatian terhadap pembinaannya dapat dilaksanakan sesuai tujuan Kepramukaan.

Penyelenggaraan Pendidikan Kepramukaan dalam Gerakan Pramuka ditinjau dari hubungan antara Pembina dengan peserta didik menggunakan Sistem Among.

Sistem Among: Cara Membina Pramuka Siaga, Penggalang, Penegak, dan Pandega
Sistem Among: Cara Membina Pramuka Siaga, Penggalang, Penegak, dan Pandega

Pengertian Sistem Among pada Pendidikan Kepramukaan

Kata “Among” artinya adalah mengasuh, memelihara, atau menjaga. Orang yang melakukan Sistem Among ini dinamakan Pamong.

Sistem Among merupakan sistem pendidikan yang dilaksanakan dengan cara memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk dapat bergerak dan bertindak secara leluasa dengan sebisa mungkin menghindari unsur-unsur perintah keharusan dan paksaan.

Sistem Among dipilih untuk menumbuhkan rasa percaya diri, kreativitas, dan aktivitas sesuai dengan aspirasi peserta didik.

Sistem Among dalam Pendidikan Kepramukaan merupakan hasil pemikiran dari Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan dan pendiri Perguruan Taman Siswa.

Ki Hajar Dewantara adalah Menteri Pendidikan pada Kabinet RI pertama. Beliau lahir pada tanggal 2 Mei 1889 dan wafat pada tanggal 28 April 1959.

Hasil pemikiran Ki Hajar Dewantara ini tidak hanya dijadikan sebagai prinsip pembinaan dalam Gerakan Pramuka saja, akan tetapi juga dipakai sebagai pertimbangan dalam merumuskan sistem pendidikan nasional secara lebih luas.

Sistem Among mewajibkan Pembina Pramuka untuk melaksanakan prinsip-prinsip kepemimpinan sebagai berikut.

  1. Ing ngarso sung tulodho; artinya di depan menjadi teladan.
  2. Ing madya mangun karso; artinya di tengah membangun kemauan
  3. Tut wuri handayani; artinya di belakang memberikan dorongan

Sistem Among berarti mendidik anggota Gerakan Pramuka menjadi insan merdeka jasmani, rohani, dan pikirannya, disertai rasa tanggungjawab dan kesadaran akan pentingnya bermitra dengan orang lain.

Di dalam melaksanakan tugasnya, Pembina Pramuka wajib bersikap dan berperilaku berdasarkan cinta kasih, kejujuran, keadilan, kepatutan, kesederhanaan, kesanggupan berkorban dan rasa kesetiakawanan sosial.

Pembina juga perlu memiliki sikap disiplin, inisiatif, dan tanggungjawab terhadap diri sendiri, sesama manusia, negara dan bangsa, alam dan lingkungan hidup, serta bertanggung-jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sistem Among dalam Gerakan Pramuka akan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan pribadi, bakat, kemampuan, dan cita-citanya. Pembina sebagai Pamong hanyalah menjaga, membenarkan, meluruskan, dan memotivasi peserta didik.

Peserta didik harus diperlakukan sebagai subjek pendidikan. Kegiatan Kepramukaan dengan menggunakan Sistem Among dilaksanakan dalam bentuk yang nyata disertai contoh-contoh yang nyata pula, mudah dimengerti dan dihayati, atas dasar minat dan karsa peserta didik.

Penerapan Sistem Among dalam Golongan Gerakan Pramuka

Pembina Pramuka juga harus tampil sebagai seseorang yang diteladani oleh peserta didiknya. Di dalam semua golongan, Pembina Pramuka berperan sebagai pemberi contoh dan teladan tentang perilaku dan pengamalan nilainilai Sarta dan Dharma Pramuka.

Sistem Among digunakan secara terpadu, tidak terpisah-pisah dan saling berkaitan untuk semua golongan Gerakan Pramuka.

Berikut ini cara ;penerapan Sistem Among pada golongan Gerakan Pramuka.

1. Sistem Among Pada Pramuka Siaga

Sifat dasar Pramuka Siaga adalah senang meniru, suka dipuji, suka bernyanyi, manja, dan masih senang bermain. Pada Pramuka Siaga, Pembina lebih berperan banyak dalam memberikan prakarsa untuk memunculkan daya kreasi peserta didik.

Pembina juga memberikan dorongan dengan peserta didik dengan cara menyesuaikan sifat, daya nalar, dan suasana Siaga. Sifat momong dengan di depan memberikan contoh (ing ngarso sung tulodho) porsinya harus lebih besar dibandingkan golongan Pramuka lainnya.

2. Sistem Among Pada Pramuka Penggalang

Pada Pramuka Penggalang, sifat-sifat Pramuka Siaga mmasih ada sebagian yang terbawa. Pramuka Penggalang senang bergerak dan mengembara, sudah mulai menyukai lawan jenis, senang mencoba-coba, dan menyenangi hal-hal yang bersifat kepahlawanan.

Pembina Pramuka pada golongan Penggalang berperan dalam mendorong dan membangkitkan semangat, motivasi, dan membangun kemauan yang lebih besar dari peserta didik sesuai prinsip kepemimpinan ing madya mangun karso.

3. Sistem Among Pada Pramuka Penegak

Pramuka Penegak sudah mulai memasuki masa sosial dan berusaha mencari identitas atau jati diri. Mereka juga tingkat kestabilan emosinya belum mantap, mudan terprovokasi dan mudah berubah.

Pramuka penegak juga menyukai kenyataan dan menjunjung tingggi realitas, memiliki kemauan yang kuat serta sulit dicegah, agresif, dan senang menyelesaikan persoalan dengan cepat yang kadang-kadang menggunakan kekuatan fisik mereka.

Pada golongan Penegak, Pembina mengambil peran sbagai Pamong dengan sikap memberikan keleluasaan dalam mengamalkan Satya dan Dharma untuk beraktivitas dan berkreasi (tut wuri handayani).

4. Sistem Among Pada Pramuka Pandega

Sebagian besar sifat Penegak ada pada Pramuka Pandega. Pandega lebih kerkonsentrasi pada kelompok dyadic (duaan) atau triadic (tigaan). Jarang sekali mereka melakukan kegiatan bersama-sama lebih dari 5 orang dalam satu kelompok.  Pramuka Pandega juga lebih terbuka terhadap anggota lainnya.

Pada golongan Pandega, Pembina mengambil peran sebagai konsultan dengan sikap lebih memberikan keleluasaan mengamalkan Satya dan Dharma untuk Pandega dalam membina diri, membina satuan, dan membina masyarakat (tut wuri handayani).

Baca juga :

Demikian ulasan mengenai Sistem Among: Cara Membina Pramuka Siaga, Penggalang, Penegak, dan Pandega. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan