Sejarah Letusan Dahsyat Gunung Krakatau Tahun 1883 Silam

Sejarah Letusan Dahsyat Gunung Krakatau Tahun 1883 Silam

Amongguru.com. Gunung Krakatau kembali menjadi bahan pembicaraan seiring terjadinya erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengakibatkan Tsunami pada Sabtu (22/12/2018) kemarin.

Gunung Krakatau adalah induk dari Gunung Anak Krakatau yang baru saja mengalami erupsi. Sebelum meletus, Gunung Krakatau tadinya terletak di sebuah pulau yang diberi nama Pulau Krakatau.

Pulau Krakatau terletak di tengah-tengah Selat Sunda yang membelah Pulau Jawa dan Pulau Sumatra. Di Pulau Krakatau tersebut terdapat tiga gunung pada bagian atasnya, yaitu Gunung Perboewatan, Gunung Danan, dan Gunung Rakata.

Letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 tercatat sebagai letusan gunung paling dahsyat sepanjang sejarah.

Dahsyatnya letusan Gunung Krakatau tersebut terdengar hingga ke seluruh penjuru bumi. Suara dentumannya terdengar sampai Diego Garcia di Samudra Hindia.

Bahkan gelombang tsunami yang ditimbulkannya dapat mencapai pesisir Afrika Selatan dan Selat Channel yang membelah negara Inggris dan Perancis.

Sejarah Letusan Dahsyat Gunung Krakatau Tahun 1883 Silam
Sejarah Letusan Dahsyat Gunung Krakatau Tahun 1883 Silam

Letusan Gunung Krakatau tepatnya terjadi pada tanggal 26 Agustus 1883, yang gejala letusannnya sudah mulai muncul sejak awal Mei 1883. Letusan hebat itu telah meruntuhkan kaldera.

Selang sehari kemudian (tanggal 27 Agustus 1883), dua pertiga dari Gunung Krakatau runtuh akibat letusan yang berantai, sehingga melenyapkan sebagian besar pulau yang ada disekelilingnya.

Letusan yang terjadi secara bersamaan dari ketiga gunung di Pulau Krakatau tersebut, yaitu Gunung Rakata, Gunung Danan, dan Gunung Perboewatan (gabungan gunung yang lebih dikenal Gunung Krakatau) telah memberikan dampak luar biasa yang dirasakan hampir di seluruh penjuru dunia.

Sebelumnya, Gunung Perbuwatan pernah mengeluarkan lava tahun 1880, akan tetapi tidak sampai meletus. Kemudian aktivitas Gunung Krakatau kembali terjadi pada Mei 1883 dan terjadi ledakan besar pada 27 Agustus 1883.

Banyak pengamat kegunungapian menilai ledakan yang timbul dari Krakatau ini setara dengan 200 megaton TNT.

Hal ini berarti kedahsyatan ledakan Gunung Krakatau adalah 13 ribu kali dari ledakan nuklir yang menghancurkan kota Hiroshima selama berlangsungnya perang dunia kedua, atau empat kali dari ledakan bom hidrogen Tsar Bomba buatan Rusia.

Pada puncak letusan, terlihat awan hitam yang berisi abu vulkanik menutupi seluruh pulau hingga ketinggian mencapai 27 km.

Sulfur dioksida dalam jumlah besar dilepaskan ke angkasa pada saat terjadi letusan Gunung Krakatau. Akibatnya, atmosfir bumi tertutup oleh gas tersebut, yang menyebabkan bumi lebih dingin hingga beberapa tahun kemudian.

Setahun setelah letusan, rata-rata suhu global turun 1,2° C. Pola cuaca tetap tidak beraturan selama bertahun-tahun, dan suhu tidak pernah normal hingga tahun 1888 akibat letusan Gunung Krakatau.

Letusan Krakatau selain melenyapkan pulau juga menimbulkan tsunami setinggi 40 meter yang menghantam pesisir pantai barat Banten, dari Merak, Anyer, Labuan, Panimbang, Ujung Kulon, hingga Cimalaya di Karawang, Jawa Barat.

Erupsi Gunung Krakatau telah menyebabkan lebih dari 36.000 orang meninggal dunia, baik yang diakibatkan oleh letusan maupun tsunami yang dihasilkannya.

Kerangka-kerangka manusia korban letusan ditemukan mengambang dari Samudra Hindia hingga pantai timur Afrika, satu tahun setelah bencana terjadi.

Suara letusan Gunung Krakatau merupakan suara paling keras yang pernah terjadi di muka bumi. Orang yang mendengar suara letusan tersebut pada radius 10 km akan berpotensi tuli.

Suara letusan yang begitu dahsyat ini bahkan terdengar hampir sejauh 3110 km jauhya sampai daerah Perth, Australia Barat, kemudian sampai Pulau Rodrigues, Mauritius, di dekat Afrika sejauh 4.653 km.

Puluhan tahun kemudian atau tepatnya tahun 1927 setelah meletusnya Gunung Krakatau, munculah gunung baru yang dikenal dengan Gunung Anak Krakatau.

Demikian sekelumit cerita tentang sejarah letusan dahsyat gunung Krakatau tahun 1883 silam.

Tinggalkan Balasan