Sejarah Dugderan Tradisi Unik Menjelang Ramadhan di Semarang

Amongguru.com. Sejarah Dugderan Tradisi Unik Menjelang Ramadhan di Semarang.

Ramadhan menjadi bulan yang istimewa bagi umat Islam. Seluruh umat Islam dari berbagai penjuru dunia menunggu datangnya bulan suci tersebut. Berbagai persiapan dilakukan, termasuk menghidupkan kembali tradisi-tradisi Ramadhan.

Negara Indonesia dengan mayoritas penduduknya adalah umat Muslim memiliki beberapa tradisi dalam menyambut bulan Ramadhan. Banyak cara dan tradisi yang digelar umat Muslim dari berbagai daerah di Indonesia untuk menyambut datangnya Ramadhan.

Dugderan merupakan salah satu tradisi unik pertanda awal datangnya bulan Ramadhan. Dugderan adalah festival rakyat untk menandai dimulainya ibadah puasa pada bulan Ramadhan yang diadakan di kota Semarang, Jawa Tengah. Perayaan dugderan dipusatkan di area Masjid Agung Kauman, dekat dengan Pasar Johar, Semarang.

Perayaan dugderan dibuka oleh Walikota Semarang dengan dimerihkan oleh suara mercon dan penyalaan kembang api. Nama “dugderan” sebagai imitasi dari suara letusan. Dug adalah bunyi dari bedug yang dipukul dan deran merupakan suara dari mercon.

Warak Ngendok Simbol Kerukunan Antaragama

Di dalam perayaan dugderan, ada sosok yang selalu mencuri perhatian pengunjung, yaitu warak Ngendok. Warak Ngendok ini biasanya dibuat dari kertas berwarna-warni sehingga mampu menarik perhatian.

Warak Ngendok merupakan sejenis hewan rekaan yang memadukan tiga unsur hewan, yaitu naga, unta, dan kambing.  Warak Ngendok juga sebagai simbol kerukunan antaragama dan suku yang terdapat di Semarang.

Kepalanya menyerupai kepala naga, simbol khas kebudayaan etnis Tionghoa. Tubuhnya berbentuk layaknya unta, khas kebudayaan dari etnis Arab. Sedangkan keempat kakinya menyerupai kaki kambing, khas kebudayaan dari etnis Jawa.

Warak Ngendok berasal dari kata wara’ah dan ngendog. Wara’ah (bahasa Arab) berarti menahan dari sesuatu yang tidak baik, sedangkan ngendok (bahasa Jawa) artinya adalah bertelur.

Selain dimeriahkan dengan karnaval, tradisi dugderan juga semakin semarak dengan munculnya para pedagang “tiban” dari berbagai daerah yang menjual makanan, minuman, maupun mainan anak-anak. Pantas saja, festival dugderan ini selalu dipenuhi oleh para pengunjung setiap harinya.

Rangkaian Prosesi Dugderan Dipimpin Walikota dan Gubernur Semarang

Sejarah Dugderan Tradisi Unik Menjelang Ramadhan di Semarang

Upacara tradisi Dugderan di halaman Balai Kota Semarang digelar pada waktu sama, yaitu sehari sebelum bulan puasa Ramadhan. Pembukaannya ditandai dengan pemukulan bedug oleh Wali Kota Semarang yang bertindak sebagai Adipati.

Selesai upacara, Walikota Semarang akan naik kereta kencana dengan dikawal Pasukan Pandanaran, pasukan berkuda, dan bendi hias yang ditumpangi jajaran muspida Kota Semarang menuju Masjid Agung Kauman, Semarang.

Setibanya di Masjid Agung Kauman Semarang, maka Walikota akan disambut oleh tarian Warak Ngendok. Kemudian, Walikota melaksanakan prosesi pembacaan skukuf halaqah, pemukulan bedug sebanyak 17 kali diiringi dentuman meriam, dan pembagian makanan khas Semarang roti Ganjel Rel dan air khataman Alquran.

Setelah prosesi di Masjid Kauman selesai, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Masjid Agung Jawa Tengah untuk menyerahkan skukuf halaqah kepada Gubernur Jawa Tengah yang bertindak sebagai Raden Mas Tumenggung Probo Hadikusumo. Prosesi ini juga akan diiringi suara bedug dan meriam.

Sejarah Dugderan Tradisi Unik Menjelang Ramadhan di Semarang

Tradisi dugderan pertama kali muncul karena sering adanya perbedaan penentuan awal Ramadhan oleh umat Islam.

Karena terjadinya perbedaan tersebut, maka pada tahun 1881, Kanjeng Bupati RMTA Purbaningrat, berinisiatif untuk menentukan awal Ramadan, yaitu setelah Bedug Masjid Agung dan meriam di halaman Pendapa Kabupaten, dibunyikan masing-masing tiga kali.

Sebelum pemukulan bedug dan penyalaan meriam, maka terlebih dahulu digelar upacara di halaman Pendapa Kabupaten. Kelengkapan untuk upacara tersebut adalah bendera, karangan bunga untuk dikalungkan pada pucuk meriam yang akan dibunyikan, mesiu, kertas koran, dan juga gamelan.

Sedangkan petugas upacaranya terdiri dari pembawa bendera, petugas pemukul bedug, petugas penyalaan meriam, niaga (pangrawit), dan pemimpin upacara (lurah desa).

Upacara dugderan dilaksanakan satu hari sebelum bulan puasa tepatnya pukul 15.30 WIB. Ki Lurah sebagai pimpinan upacara akan berpidato menetapkan hari dimulainya puasa, dilanjutkan dengan berdoa memohon keselamatan.

Bedug di Masjid kemudian dibunyikan sebanyak kali, demikian juga meriam. Setelah itu, gamelan akan dibunyikan.

Suara bedug yang berbunyi dug dug, dan meriam yang terdengar der der, akhirnya menarik perhatian masyarakat Semarang dan sekitarnya, untuk berbondong-bondong datang. Masyarakat kemudian mengenal tradisi menjelang awal Ramadhan itu sebagai dugderan.

Makna Tradisi Dugderan

Dugderan menjadi sebuah pesta rakyat yang dikemas dalam bentuk karnaval, tari-tarian, dan wisata kuliner.

Meskipun demikian, tradisi ini tetap mengutamakan puncak ritual, yaitu tabuh bedug dan halaqah sebagai tanda akhir festival. Sehingga, duderan tidak semata-mata sebagai sebuah kesenian rakyat saja, aka tetapi merupakan salah satu budaya Islam yang ada di Semarang nyang sarat dengan makna.

Ditabuhnya bedug dalam upacara dugderan merupakan pertanda pengumuman dimulainya puasa pada bulan suci Ramadhan. Pemukulan bedug akan meneguhkan ketetapan jatuhnya tanggal 1 bulan Ramadhan, sehingga tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal bulan Ramadhan.

Hadirnya Warak Ngendok dalam festival dugderan menjadi simbol kerukunan antar umat beragama dan etnis yang ada Semarang. Warak Ngendok sebagai lambang toleransi antarumat beragama, sehingga kehidupan beragama di Semarang akan selalu dalam keadaan saling menghormati satu dengan lainnya.

Baca juga artikel terkait berikut.

Demikian ulasan mengenai Sejarah Dugderan Tradisi Unik Menjelang Ramadhan di Semarang. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan