Punggahan Tradisi Mendoakan Leluhur Menjelang Bulan Ramadhan

Amongguru.com. Punggahan Tradisi Mendoakan Leluhur Menjelang Bulan Ramadhan.

Sebuah tradisi merupakan budaya yang turun temurun dilestarikan oleh setiap generasi. Tradisi tersebut biasanya akan dipegang teguh sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang sudah dengan susah payah mengembangkannya.

Melestarikan tradisi adalah kewajiban tiap-tiap generasi agar tidak hilang dan tidak menjadi sebuah cerita belaka. Gencarnya pengaruh gaya hidup modern merupakan tantangan tersendiri dalam mempertahankan sebuah tradisi agar bertahan dan tidak hilang digerus arus globalisasi.

Mempertahankan tradisi dapat diakukan dengan memaknainya sebagai sebuah warisan luhur yang secara turun temurun ada dan harus dilestarikan agar tidak hilang atau punah.

Salah satu tradisi yang masih tetap dipertahankan sampai sekarang, khususnya oleh masyarakat Jawa adalah punggahan. Punggahan merupakan tradisi mengirim doa kepada leluhur yang sudah meninggal dunia menjelang datangnya bulan Ramadhan.

Ramadhan merupakan bulan mulia yang selalu ditunggu-tunggu kedatangannya oleh umat Muslim di seluruh dunia, tidak terkecuali umat Muslim di Indonesia. Berbagai persiapan pun dilakukan untuk menyambut datangnya Ramadhan, diantara adalah dengan punggahan.

Punggahan sendiri berasal dari kata munggah (bahasa Jawa) yang artinya naik, mancat, atau memasuki tempat yang lebih tinggi. Punggahan dimaksudkan sebagai tradisi berdoa dan bersyukur naik ke bulan mulia, yaitu bulan suci Ramadhan.

Sesuai kata munggah tersebut tersirat makna perubahan ke arah yang lebih baik atau terjadi peningkatan iman selama melakukan ibadah puasa Ramadhan.

Punggahan Tradisi Mendoakan Leluhur Menjelang Bulan Ramadhan
Punggahan Tradisi Mendoakan Leluhur Menjelang Bulan Ramadhan

Punggahan bertujuan untuk mengingatkan para umat muslim bahwa Ramadhan akan segera tiba, dan juga untuk mengirim doa untuk orang-orang yang telah meninggal dunia.

Tradisi punggahan  diperkenalkan pada saat penyebaran agama Islam di wilayah Jawa, terutama jawa timur dan tengah bagian selatan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga berdakwah pada masyarakat Jawa pedalaman dengan berbagai metode alkuturasi budaya.

Metode ini ditempuh Sunan Kalijaga agar agama Islam dapat diterima dengan baik oleh masyarakat tanpa harus meninggalkan tradisi leluhur yang sudah ada pada waktu itu.

Punggahan biasanya dilakukan dirumah masing-masing dengan mengundang sanak saudara dan tetangga sekitar serta seorang kyai untuk memimpin tahlil dan doa. Punggahan juga ada yang dilakukan secara bersama-sama di mushola atau masjid.

Menu yang wajib disediakan pada saat punggahan adalah apem, pasung, pisang (gedang), dan ketan. Selain itu ada juga hidangan nasi kuluban dan bubur nasi.

Keempat menu wajib yang harus ada pada saat punggahan tersebut oleh Sunan Kalijaga diberi makna sesuai dengan tafsiran bahasa Arab. Ketan merupakan kata yang berasal dari bahasa Melayu yang kemudin ditafsirkan dengan kata “khotho’an” yang berarti kesalahan.

Apem ditafsirkan dengan lafdz “afwan” yang berarti maaf. Sebagai sesama manusia harus saling maaf memaafkan, selain bertaubat kepada Allah. Gedang (pisang) dalam bahasa Arab, yaitu “ghodaan” yang memiliki arti esok hari atau waktu yang akan datang.

Sedangkan pasung ditafsirkan dengan lafadz “fashoum” yang mempunyai arti maka berpuasalah, Berpuasa dilakukan setelah bertaubat dan minta maaf demi menyempurnakan keduanya.

Baca juga artikel terkait berikut.

Demikian ulasan mengenai Punggahan Tradisi Mendoakan Leluhur Menjelang Bulan Ramadhan. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan