Proses Fertilisasi dan Perkembangan Embrio Dalam Rahim (Uterus)

Proses Fertilisasi dan Perkembangan Embrio Dalam Rahim (Uterus)

Amongguru.com. Fertilisasi merupakan proses pembuahan sel telur (ovum) oleh sperma. Pada manusia, sperma dihasilkan di testis pria dan ovum dihasilkan pada ovarium wanita. Pembuahan akan didahului oleh ovulasi, yaitu lepasnya sel telur yang telah masak dari ovarium.

Proses Fertilisasi

Peristiwa fertilisasi  terjadi di dalam tuba falopi (oviduk) di tubuh wanita. Sel telur yang telah dibuahi selanjutnya akan membentuk zigot.

Zigot selanjutnya menuju ke rahim dan akan mengalami pembelahan berulang-ulang serta tumbuh untuk membangun jaringan tubuh manusia.

Di dalam rahim, zigot menanamkan dirinya pada dinding rahim (endometrium) yang telah menebal dan banyak mengandung pembuluh darah. Zigot berkembang menjadi embrio manusia yang baru.

Baca : Perbedaan Fertilisasi Internal dan Eksternal Pada Hewan Serta Contohnya

Pada kondisi tertentu, sel telur yang matang akan berovulasi tidak hanya satu. Kondisi inilah yang dapat menyebabkan terjadinya hamil kembar.

Pengertian, Proses Fertilisasi, dan Perkembangan Embrio pada Manusia
Pengertian, Proses Fertilisasi, dan Perkembangan Embrio pada Manusia

Usia sel telur di dalam tuba falopi hanya 24 jam saja, sehingga apabila tidak ada sperma yang membuahinya, maka sel telur akan mati dan kehamilan tidak terjadi.

Jika tidak ada sperma yang membuahi sel telur, maka sel telur akan berpindah ke rahim dan hancur.

Lapisan dinding rahim yang menebal akan mulai mengalami proses peluruhan bersama dengan hancurnya sel telur tersebut sehingga terjadilah menstruasi.

Di dalam sekali ejakulasi (keluarnya sperma dari kelamin pria), terdapat berjuta-juta sperma yang saling berlomba untuk membuahi ovum. Pada saat ejakulasi akan dikeluarkan 40 sampai 150 juta sel sperma yang siap membuahi.

Sel sperma akan bergerak dengan bantuan bagian ekornya. Pergerakan tersebut dapat mencapai 12 cm per jam di sepanjang tuba fallopi (saluran oviduk). Pergerakan sperma  dibantu juga oleh pergerakan dinding rahim dan dinding tuba falopi.

Mulut rahim juga mengeluarkan cairan atau lendir encer agar spermatozoa dapat berenang dengan lancar dalam rahim menuju saluran telur untuk menemui dan membuahi sel telur.

Dari berjuta sperma yang dikeluarkan tersebut, normalnya hanya ada satu sperma berhasil bertahan hidup selama kurang lebih satu minggu hingga berhasil mencapai ovum.

Setelah satu sperma tersebut berhasil membuahi ovum, maka akan terbentuk selaput pelindung untuk menghalangi masuknya sperma lain yang akan melakukan pembuahan.

Organ Sistem Reproduksi Wanita

Perkembangan Embiro dalam Rahim (Uterus)

Masa embrio atau kehamilan manusia sekitar 9 bulan 10 hari. Di dalam rahim, embrio akan mendapatkan makanan dari tubuh induk melalui plasenta (ari-ari).

Embiro di dalam rahim dilindungi oleh beberapa selaput pembungkus sebagai berikut.

1. Amnion

Amnion adalah selaput yang membatasi ruangan tempat berkembangnya embrio. Dinding amnion mengeluarkan getah berupa air ketuban yang berguna untuk menjaga embrio agar tetap basah dan menahan guncangan.

2. Korion

Korion merupakan suatu selaput yang berada di sebelah luar amnion. Korion akan tumbuh membentuk jonjot pembuluh darah yang berhubungan dengan peredaran darah induknya melalui plasenta.

3. Sakus vitelinus (kantung kuning telur)

Kantung ini terletak di antara amnion dan plasenta. Sakus vitelinus merupakan pemunculan sel-sel dan pembuluh darah yang pertama.

4. Alantois

Alantois terletak di dalam tali pusat dan berfungsi untuk respirasi, saluran makanan, dan respirasi.

Perkembangan embrio dimulai dari pembelahan zigot, stadium morula (morulasi), stadium blastula (blastulasi), stadium gastrula (gastrulasi), dan stadium organogenesis.

1. Zigot

Zigot adalah tahap embrionik yang dimulai setelah terjadi peleburan antara sperma dan sel telur.

2. Morula

Zigot selanjutnya membelah secara mitosis dan terus menerus. Pada fase morula pembelahan mitosis yang terjadi hanya menambah jumlah sel tanpa diikuti pertambahan massa sel.

3. Blastula

Pada fase blastula, pembelahan sel terus berlanjut sehingga terbentuk rongga sel berisi cairan yang disebut dengan blastosoel.

4. Gastrulla

Sel-sel yang terus membelah kemudian membentuk dua kutub pembelahan, yaitu kutub animal dan kutub vegetal.

Sel-sel kutub animal lebih aktif membelah daripada kutub vegetal, sehingga terjadi lipatan ke arah dalam (invaginasi) yang akan membentuk jaringan embrional, yaitu lapisan luar (ektoderm), lapisan tengah (mesoderm), dan lapisan dalam (endoderm).

5. Organogenesis

Tahapan selanjutnya, jaringan embrional akan mulai mengalami perubahan bentuk dan terdeiferensiasi membentuk organ berdasarkan lapisannya.

  • Lapisan luar (ektoderm) yang akan mengalami diferensiasi menjadi rangka, saraf, alat indera.
  • Lapisan tengah (mesoderm) yang kemudian mengalami diferensiasi menjadi rangka, otot, alat-alat peredaran darah, ekskresi dan organ reproduksi.
  • Lapisan dalam (endoderm) yang akan mengalami hal serupa menjadi alat-alat pencernaan dan alat pernapasan.

Masa embrio (lamanya dalam kandungan) pada manusia adalah sekitar 40 minggu, dengan urutan sebagai berikut.

  1. Janin umur 4 minggu : organ penting seperti jantung sudah sudah terbentuk, mulai tampak tumbuh telinga dan mata.
  2. Janin umur 8 minggu : mirip bayi dengan ukuran kepala yang relatif lebih besar, hidung, mata, telinga, tangan, dan kaki mulai nampak jelas bentuknya.
  3. Janin umur 10 minggu panjang 6 cm terlihat seperti bayi. Ukuran kepala lebih besar jika dibandingkan dengan ukuran badannya. Selain itu, perkembangan mata, telinga, jari tangan dan kaki sudah makin sempurna.
  4. Janin umur 7 bulan : perkembangan embrio telah sempurna.
  5. Janin umur 32 minggu : panjang janin telah mencapai 40 cm.
  6. Janin umur 40 minggu : janin siap dilahirkan (9 bulan 10 hari).

Baca juga : Fase Siklus Menstruasi pada Wanita dan Faktor yang Memengaruhinya

Demikian ulasan mengenai proses fertilisasi dan perkembangan embrio dalam rahim (uterus). Terima kasih sudah berkunjung dan semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan