Prosedur Keselamatan Kerja Laboratorium IPA Dilengkapi Gambar

Prosedur Keselamatan Kerja Pada Laboratorium IPA Dilengkapi Gambar

Amongguru.com. Pembelajaran IPA tidak lepas dari penyediaan dan  pengelolaan laboratorium IPA.

Laboratorium adalah tempat untuk mengaplikasikan teori keilmuan, pengujian teoritis, pembuktian uji coba, penelitian, dan sebagainya dengan menggunakan alat bantu yang menjadi kelengkapan dari fasilitas dengan kuantitas dan kualitas yang memadai.

Laboratorium IPA merupakan tempat peserta didik melakukan kegiatan penyelidikan yang dapat menghasilkan pengalaman belajar dimana peserta didik berinteraksi dengan berbagai alat dan bahan untuk  mengobservasi  gejala-gejala  yang  dapat  diamati  secara  langsung dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari.

Prosedur Keselamatan Kerja Laboratorium IPA Dilengkapi Gambar dan Penjelasannya
Prosedur Keselamatan Kerja Pada Laboratorium IPA Dilengkapi Gambar dan Penjelasannya

Di dalam pelaksanaannya, kegiatan di laboratorium IPA sering  melibatkan bahan, peralatan dan instrumentasi khusus yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan apabila dilakukan dengan cara yang tidak tepat.

Kecelakaan itu dapat juga terjadi karena kelalaian atau kecerobohan kerja yang  dapat membuat guru atau peserta didik cedera.

Kecelakaan di laboratorium terjadi karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman mengenai bahan, proses-proses dan perlengkapan atau peralatan yang tidak jelas serta kurangnya bimbingan terhadap peserta didik yang sedang bekerja di laboratorium.

Selain itu, tidak tersedianya perlengkapan keamanan dan pelindung untuk kegiatan, tidak mengikuti petunjuk atau aturan yang seharusnya ditaati, tidak menggunakan perlengkapan pelindung atau menggunakan peralatan atau bahan tidak sesuai dan tidak berhati-hati dalam kegiatan dapat pula menjadi sumber kecelakaan.

A, Kesehatan dan Keselamatan Kerja Pada Laboratorium IPA

Beberapa kegiatan di laboratorium mungkin mengandung resiko kecelakaan apabila tidak dilaksanakan dengan hati-hati.

Sebagai contoh, pada percobaan untuk menguji perubahan sifat kimia, praktikum pengujian bahan makanan dan praktikum untuk menguji fotosintesis.

Pada praktikum tersebut menggunakan api sebagai salah satu bahan yang harus digunakan peserta didik, apabila tidak hati-hati potensi terjadinya kebakaran cukup besar.

Demikian juga praktikum yang menggunakan alat-alat gelas yang rentan pecah, maka pecahan gelas tersebut dapat melukai peserta didik yang tidak hati-hati.

Penggunaan bahan-bahan kimia, misalnya alkohol yang digunakan untuk melarutkan klorofil pada daun pada praktikum fotosintesis dan penggunaan kloroform dalam praktikum pembedahan juga harus dilakukan secara hati-hati.

Misalnya alkohol tidak boleh dipanaskan langsung di api karena dapat meledak, sehingga dalam pelaksanaannya alkohol direbus dengan cara direbus dengan pemanas air.

B. Pemeliharaan Alat dan Bahan Laboratorium

Laboratorium IPA pada umumnya memiliki alat dan bahan khusus. Sebagai contoh, alat yang terkait dengan fisika antara lain galvanometer, multimeter, voltmeter dan bahan-bahan seperti kabel-kabel dan sebagainya.

Bahan-bahan kimia seperti asam pekat dan encer, buret, pipet-pipet, alat  titrasi dan sebagainya, biasanya juga terdapat dalam laboratorium IPA.

Selain itu, ada pula mikroskop, spesimen-spesimen yang dikumpulkan dari tumbuhan dan hewan, dan sebagainya.

Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan di laboratorium IPA memerlukan perlakuan khusus sesuai sifat dan karakteristik masing-masing.

Perlakuan yang salah dalam membawa, menggunakan dan menyimpan alat dan bahan di laboratorium IPA dapat menyebabkan kerusakan alat dan bahan, terjadinya kecelakaan kerja serta dapat menimbulkan penyakit.

Peralatan laboratorium sebaiknya dikelompokkan berdasarkan penggunaannya. Setelah selesai digunakan harus segera dibersihkan kembali dan disusun seperti semula.

Semua alat-alat ini sebaiknya diberi penutup, misal plastik transparan, terutama terutama alat-alat yang memang memerlukannya.

Alat-alat yang tidak berpenutup akan cepat berdebu, kotor dan akhirnya dapat merusak alat yang bersangkutan.

  • Alat-alat gelas (glassware)

Alat-alat gelas harus dalam keadaan bersih, apalagi peralatan gelas yang sering dipakai. Untuk alat-alat gelas yang memerlukan sterilisasi, sebaiknya disterilisasi sebelum dipakai. Semua alat-alat gelas ini seharusnya ditempatkan pada lemari khusus.

  •  Bahan-bahan kimia

Untuk bahan-bahan kimia yang bersifat asam dan alkalis, sebaiknya ditempatkan pada kamar atau ruang khusus (untuk mengeluarkan gas-gas yang mungkin timbul). Demikian juga untuk bahan-bahan yang mudah menguap.

Ruangan khusus tersebut perlu dilengkapi pendingin udara atau kipas angin, agar udara/uap yang ada dapat terpompa keluar.

Bahan kimia yang ditempatkan dalam botol berwarna coklat atau gelap tidak boleh langsung terkena sinar matahari, sebaiknya ditempatkan pada lemari khusus.

  • Alat-alat optik dan mikroskop

Alat-alat mikroskop dan alat-alat optik lainnya seharusnya disimpan pada tempat yang kering dan tidak lembab.

Kelembaban yang tinggi akan menyebabkan lensa-lensa berjamur, jika jamur ini banyak, maka mikroskop akan rusak dan tidak dapat dipakai sama sekali.

Sebagai tindakan pencegahan, mikroskop selalu ditempatkan dalam kotaknya, yang biasanya dilengkapi dengan silica-gel dan sebelum disimpan dicek kembali kebersihannya.

Mikroskop ini seharusnya ditempatkan di dalam lemari-lemari khusus yang dikendalikan kelembabannya.

Untuk lemari biasanya diberi lampu pijar 10-15 watt, agar ruang ini tetap selalu panas atau kering dan akan mengurangi kelembaban udara. Alat optik lainnya seperti lensa pembesar (loupe), alat kamera optik, kamera digital, microphoto-camera, juga ditempatkan pada lemari khusus yang tidak lembab.

  • Neraca

Jika laboratorium  mempunyai    neraca,  sebaiknya  dirawat  secara khusus. Alat ini merupakan alat yang   mahal, dan umurnya bergantung pada cara  menggunakannya dan bagaimana memeliharanya.

Diusahakan agar neraca tersebut mendapat tempat yang baik. Neraca harus berdiri di atas  sebuah meja yang tahan getaran dan letaknya jangan dekat jendela atau pintu yang sering dibuka.  Setiap tahun neraca hendaknya ditera, untuk dapat mempertahankan ketelitiannya.

Jika  ada zat  yang tertumpah ketika sedang menimbang, segera piring neraca dicuci dengan air, lalu dikeringkan.

Ketika menimbang harus diusahakan agar daya beban  yang  telah  ditentukan  tidak  dilampaui.  Juga  harus  dijaga  agar jumlah batu timbang tetap lengkap.

Penyimpanan bahan kimia perlu memperhatikan hal-hal berikut, untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

  1. Semua peralatan yang berisi bahan kimia harus diberi label yang menyatakan nama bahan itu.
  2. Botol-botol yang berisi bahan kimia disimpan pada rak atau lemari yang disediakan khusus.
  3. Jangan menggunakan tutup dari kaca untuk botol yang berisi bahan yang bersifat basa, karena lama kelamaan tutup itu akan melekat pada botol dan susah dibuka.
  4. Bahan kimia yang dapat bereaksi hebat hendaknya jangan disimpan berdekatan.
  5. Bahan-bahan kimia yang beracun dan berbahaya hendaknya dibeli dalam jumlah kecil dan tanggal pembeliannya dicatat.

Pada saat menggunakan bahan-bahan kimia, perlu memperhatikan  hal-hal berikut.

  1. Tabung reaksi yang berisi zat kimia tidak boleh diarahkan ke wajah sendiri atau orang lain.
  2. Senyawa kimia tidak boleh dibau secara langsung.
  3. Senyawa/zat kimia tertentu (asam kuat dan basa kuat) tidak boleh dicampur karena akan terjadi   reaksi yang hebat, kecuali sudah diketahui pasti tidak menimbulkan bahaya.
  4. Penggunaan pelindung wajah sangat diperlukan jika menangani zat-zat atau senyawa kimia  yang berbahaya
  5. Tidak diperbolehkan mengembalikan zat atau senyawa kimia yang terlanjur tertuang untuk dikembalikan ke botol asalnya.

C. Simbol-simbol Bahan Kimia Berbahaya

Salah satu hal yang sangat penting dalam kegiatan di laboratorium adalah pemahaman terhadap beberapa simbol yang sering dijumpai pada bahan kimia. Beberapa simbol yang sering dijumpai adalah sebagai berikut.

1. Berbahaya (harmfull)

Bahan kimia dapat menyebabkan iritasi, luka bakar pada kulit, berlendir, mengganggu sistem pernafasan bila kontak dengan kulit, dihirup atau ditelan. Contohnya NaOH, Cl2.

2. Beracun (toxic)

Bahan kimia bersifat racun, dapat menyebabkan kematian atau sakit yang serius bila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan, menghirup uap, bau atau debu, atau penyerapan melalui kulit. Contohnya CCl4, H2S.

3. Korosif (corrosive)

Bahan kimia bersifat korosif, dapat merusak jaringan hidup, menyebabkan iritasi pada kulit, gatal-gatal bahkan dapat menyebabkan kulit mengelupas. Misalnya H2SO4, HNO3, HCl.

4. Mudah terbakar (flammable)

Bahan kimia memiliki titik nyala rendah dan mudah menyala atau terbakar dengan api bunsen, permukaan metal panas atau loncatan bunga api. Misalnya C2H2.

5. Mudah meledak (explosive)

Bahan kimia bersifat dapat meledak dengan adanya panas, percikan bunga api, guncangan atau gesekan. Contohnya KClO3, NH4NO3.

6. Pengoksidasi (oxidising)

Bahan kimia bersifat pengoksidasi, dapat menyebabkan kebakaran  dengan menghasilkan panas saat kontak dengan bahan organik, bahan pereduksi, dan yang lainnya. Contohnya KMnO4, H2O2, K2Cr2O7

7. Pencemar lingkungan (nature polluting)

Bahan kimia bersifat berbahaya bagi satu atau beberapa komponen dalam lingkungan kehidupan. Misalnya AgNO3, Hg2Cl2, dan HgCl2.

Kemasan bahan kimia dapat mengandung satu bahkan lebih simbol bahaya. Akan tetapi, kemasan tanpa simbol bahaya bukanlah berarti bahwa bahan kimia tersebut aman dan bebas bahaya, untuk itu diperlukan kehati-hatian dalam penanganan bahan kimia.

Baca juga :

Demikian ulasan mengenai prosedur keselamatan kerja pada laboratorium IPA dilengkapi gambar. Semoga bermanfaat.

2 Replies to “Prosedur Keselamatan Kerja Laboratorium IPA Dilengkapi Gambar

Tinggalkan Balasan