Perbedaan Validitas Isi dan Validitas Konstruk dalam Analisis Butir Soal

Perbedaan Validitas Isi dan Validitas Konstruk dalam Analisis Butir Soal

Amongguru.com. Validitas merupakan salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam analisis butir soal. Validitas suatu perangkat tes dapat diartikan merupakan kemampuan suatu tes untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.

Validitas menjadi hal yang sangat penting karena akan menjadi kebermaknaan dalam sebuah tes serta mengukur kemampuan peserta didik secara tepat.

Terdapat dua tipe validitas dalam analisis butir soal, yaitu validitas isi dan validitas konstruk. Validitas isi berarti sejauh mana suatu perangkat tes mencerminkan keseluruhan kemampuan yang hendak dicapai peserta didik.

Sedangkan validitas konstruk adalah validitas yang menunjukkan sejauhmana instrumen  mengungkap suatu trait atau konstruk teoretis yang hendak diukurnya.

Berikut ini penjelasan mengenai perbedaan validitas isi dan validitas konstruk dalam analisis butir soal.

1. Validitas Isi (Content Validity)

Validitas isi merupakan modal dasar dalam soal yang diteskan, karena validitas isi akan menyatakan keterwakilan aspek yang diukur dalam sebuah instrumen penilaian.

Validitas isi sering pula dinamakan validitas kurikulum, yang mengandung arti bahwa suatu alat ukur dipandang valid apabila sesuai dengan isi kurikulum yang hendak diukur.

Validitas isi lebih menekankan pada keabsahan instrumen yang disusun dengan cara dikaitkan dengan domain yang ingin diukur.

Validitas isi merupakan validasi yang dilakukan melalui pengujian terhadap kelayakan atau relevansi isi tes kepada yang berkompeten (peserta didik).

Jenis validitas ini bersifat subjektif dari yang menilai (guru). Oleh karena itu, sejauhmana kesepakatan penilaian guru dapat mendukung tujuan  pengukuran pada instrumen yang berfungsi secara valid.

Salah satu cara untuk memperoleh validitas isi adalah dengan melihat soalsoal yang membentuk tes itu. Jika keseluruhan soal tampak mengukur apa yang seharusnya tes itu digunakan, tidak diragukan lagi bahwa validitas isi sudah terpenuhi.

Di dalam dunia pendidikan, sebuah tes dikatakan memiliki isi apabila mengukur sesuai dengan domain dan tujuan khusus tertentu, yang sama dengan isi pelajaran  dan telah diberikan di kelas. Soal matematika dikatakan valid apabila hanya mengukur kemampuan matematika, bukannya mengukur kemampuan bahasa.

Ketika kita mengatakan akan mengukur kemampuan X peserta tes, kita harus mengukur atribut atau karakteristik khusus yang berkaitan dengan X peserta tes  yang akan diukur.

Sebagai contoh, sebuah tes dirancang untuk mengukur kemampuan bermain bola basket dalam mata pelajaran Penjaskes, misalnya, tentunya hal yang diukur haruslah antara lain berkaitan dengan kemampuan berlari, membawa bola, menembak bola, dan mendrible bola.

Secara lebih spesifik, ada dua tipe validitas isi, yaitu validitas tampang (face validity) dan validitas logis (logical validity). Face validity adalah bukti validitas yang meskipun penting, akan tetapi memiliki signifikansi yang  paling rendah.

Hal ini dikarenakan penilaian yang didasarkan terhadap format penampilan tes dan kesesuain konteks dengan tujuan ukuran alat tes.

Apabila segi penampilan tes telah meyakinkan dan memberikan kesan mampu mengungkap
apa yang menjadi tujuan, maka dapat dikatakan bahwa validitas tampang telah
terpenuhi. 
Jadi, tidak akan dapat dikatakan valid jika yang menjadi tujuan diyakini sebagai suatu kumpulan.

Baca : Aplikasi Analisis Butir Soal Pilihan Ganda Terbaru Tahun 2021

Validitas logis terkadang disebut dengan validitas sampling karena validitas ini merujuk pada sejauhmana soal dapat merepresentasikan dari ciriciri atribut yang akan diukur.

Karakteristik yang terpenting dari validitas ini adalah relevansi isi dengan indikator perilaku dengan tujuan pengukuran.

Untuk memperoleh validitas logis yang tinggi suatu tes harus dirancang sedemikian rupa, sehingga benarbenar hanya berisi aitem yang relevan sebagai bagian dari keseluruhan tes.

2. Validitas Konstruk (Construct Validity)

Konstruk (construct) adalah sesuatu yang berkaitan dengan fenomena dan objek yang abstrak, tetapi gejalanya dapat diamati dan diukur.

Gravitasi, massa, kemampuan matematika, kemampuan bahasa Inggris, kebahagiaan, dan kesedihan antara lain termasuk konstruk.

Gravitasi, misalnya, dapat dijadikan sebagai contoh bagaimana memahami konstruk. Ketika buah apel jatuh ke tanah, konstruk tentang gravitasi dapat digunakan untuk menjelaskan dan memperkirakan perilaku (jatuhnya buah apel misalnya) yang diamati.

Akan tetapi, kita tidak dapat melihat yang dimaksud dengan konstruk gravitasi itu sendiri. Hal yang dapat kita lihat hanyalah apel itu jatuh. Kita dapat mengukur gravitasi dan mengembangkan teori tentang gravitasi.

Validitas konstruk mengandung arti bahwa suatu alat ukur (dikatakan valid apabila telah cocok dengan kontruksi teoritik di mana tes itu dibuat).

Sebuah tes dikatakan memiliki validitas konstruk apabila soalsoalnya mengukur setiap aspek berpikir seperti yang diuraikan dalam standar kompetensi, kompetensi dasar, maupun indikator yang terdapat dalam kurikulum.

Validitas konstruk lebih menekankan pada seberapa jauh instrumen yang disusun itu terkait secara teoritis mengukur konsep yang telah disusun oleh peneliti.

Untuk mengetahui validitas konstruk suatu instrumen penelitian dapat dilakukan dengan mencari korelasi instrumen dengan instrumen lain yang telah diketahui validitasnya atau meminta peserta didik untuk menilai instrumen yang disusun oleh guru.

Selain itu juga dapat digunakan faktor analisis. Faktor analisis adalah sebuah metode statistik
yang biasa digunakan dalam pengembangan alat ukur, kemudian untuk menganalisis hubungan di antara banyak sekali variabel.

Validitas konstruk terbagi menjadi dua, yaitu, validitas konvergen dan validitas diskriminan. Validitas konvergen (convergent validity) merujuk kepada derajat kesesuaian antara atribut hasil pengukuran alat ukur dan konsepkonsep secara teoritis yang menjelaskan keberadaan atributatribut dari sebuah variabel.

Sedangkan validitas diskriminan (discriminant validity) merujuk kepada derajat ketidaksesuaian antara atributatribut yang seharusnya tidak diukur oleh alat ukur dan konsepkonsep teoretis tentang variabel tersebut.

Demikian ulasan mengenai perbedaan validitas isi dan validitas konstruk dalam analisis butir soal. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan