Pengaruh Struktur Tanah Terhadap Terjadinya Likuifaksi di Indonesia

Pengaruh Struktur Tanah Terhadap Terjadinya Likuifaksi di Indonesia

Amongguru.com. Likuifaksi (liquefaction) adalah sebuah fenomena hilangnya kekuatan lapisan tanah akibat getaran gempa. Lapisan tanah akan berubah menjadi seperti cairan, sehingga tidak mampu menopang beban bangunan baik yang di dalam maupun di atasnya.

Beban siklik pada waktu terjadi gempa menyebabkan tekanan air pori meningkat melampaui tegangan vertikal. Karena tekanan airnya meningkat, maka jarak antar partikel tanah menjadi semakin renggang, sehingga kekuatan tanah berkurang.

Likuifaksi terjadi pada tanah yang berpasir lepas, tidak padat, dan jenuh air. Seiring naiknya tekanan efektif yang diakibatkan oleh guncangan gempa, tegangan air menjadi berkurang.

Tegangan efektif adalah tegangan yang terjadi ketika adanya gaya kontak antar butiran pasir. Tegangan efektif nol menyatakan tidak adanya gaya kontak tersebut, sehingga butiran pasir benar-benar mengapung bebas dalam air dan pasir terlihat seperti mencair.

Pada saat kondisi tersebut terjadi, maka tanah tidak mampu lagi menopang beban di atasnya dan menyebabkan amblasnya bangunan, bangunan menjadi miring, atau pun terjadinya longsor.

Kerugian terbanyak terjadi akibat dari besarnya getaran yang menyebabkan runtuhnya bangunan dengan struktur yang lemah.

Pengaruh Struktur Tanah Terhadap Terjadinya Likuifaksi di Indonesia

Likuifaksi dapat terjadi pada tanah jenuh, dimana ruang antara partikel individu benar-benar penuh dengan air. Air akan memberikan suatu tekanan pada partikel tanah yang tidak padat atau berpasir tersebut.

Sebelum terjadinya gempa, tekanan air relatif rendah. Getaran gempa menyebabkan tekanan air meningkat ke titik dimana partikel tanah dengan mudah dapat bergerak terhadap satu sama lain.

Likuifaksi terjadi ketika struktur pasir jenuh yang longgar rusak karena pergerakan tanah akibat gempa. Partikel pasir yang longgar akan berusaha untuk pindah ke konfigurasi yang lebih padat.

Sebaliknya, aliran air mencegah partikel tanah untuk bergerak lebih dekat satu sama lain. Hal tersebut disertai dengan peingkatan tekanan air yang mengurangi kekuatan kontak antara individu partikel tanah sehinggga terjadi pelunakan tanah atau likuifaksi.

Sebagian wilayah Indonesia berada di daerah Cincin Api Pasifik, maka kemungkinan terjadinya likuifaksi selalu ada.

Misalnya, gempa bumi yang berkekuatan 7,6 skala Richter di Padang, Sumatra Barat. telah mengakibatkan terjadinya likuifaksi.

Kondisi geologi di Padang yang bercirikan endapan pasir lepas dan lempung, menyebabkan beberapa wilayah di daerah Padang dan sekitarnya mudah mengalami kerusakan akibat likuifaksi selama gempa bumi tahun 2009 tersebut.

Hasil peninjauan terhadap pasca gempa bumi 2009 di daerah Padang pada beberapa lokasi mengindikasikan bahwa likuifaksi menghasilkan penurunan lapisan tanah bervariasi antara 5 -10 cm, 20 -50 cm, dan 50 -100 cm.

Akibat gempa bumi Padang 2009, fenomena likuifaksi berupa semburan pasir terjadi melalui rekahan-rekahan yang memotong badan jatan dan perpindahan lateral di kawasan pesisir.

Likuifaksi juga membuat bangunan di atasnya ambles, sedangkan benda di dalam tanah dapat eperti muncul ke permukaan. Seperti yang terjadi di Kota Cilacap, yang berdekatan dengan pantai, yaitu tangki Pertamina dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang muncul ke permukaan tanah pasca kejadian gempa.

Selain itu, beberapa fenomena likuifaksi yang pernah ditemui di Indonesia diantaranya berupa semburan pasir yang menyumbat sumur artesis, seperti di Bantul, dan perpindahan lateral pada permukaan datar yang berupa retakan, seperti di Bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta.

Fenomena likuifaksi yang baru saja terjadi, yaitu di Kabupaten Sigi dan Palu. Likuifaksi di Palu dan Sigi terjadi sesaat setelah terjadi gempa dengan kekuatan 7,4 skala Richter yang mengocang Timur Laut Donggala pada tanggal 28 September 2018 kemarin.

Diduga seluruh kawasan yang terkena likuifaksi di Sigi dan Palu sebenarnya berada di atas endapan lumpur dan pasir dari pesisir atau sungai yang tidak terkonsolidasi dan jenuh dalam air.

Ketika material tersebut terguncang oleh gempa bumi, maka tanah menjadi mencair. Akibatnya, permukaan tanah bergerak dan ambles, dan semua bangunan di atas tanah menjadi hancur.

Baca juga :

Demikian ulasan mengenai pengaruh struktur tanah terhadap terjadinya likuifaksi di Indonesia. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan