Pendekatan Multisensori dalam Pembelajaran Membaca Teknis Bahasa Indonesia

Amongguru.com. Pendekatan Multisensori dalam Pembelajaran Membaca Teknis Bahasa Indonesia.

Pendekatan multisensori dikembangkan berdasarkan asumsi bahwa setiap anak akan dapat belajar dengan baik jika materi pembelajaran disajikan dalam berbagai modalitas.

Modalitas yang sering dipakai tersebut adalah tartil (perabaan), visual (penglihatan), auditori (pendengaran), dan kinetetik (gerakan). Di dalam pelaksanaannya, keempat modalitas tersebut harus ada, agar belajar dapat berlangsung secara optimal.

Meskipun gaya belajar auditori, visual, kinestetis, dan tartil adalah gaya belajar yang paling umum, tetapi ada pengaruh-pengaruh yang bertindak sebagai profesor atau pengatur informasi untuk meningkatkan gaya belajar tersebut (Thomas L. Madden 2002).

Untuk melibatkan keterlibatan berbagai modalitas tersebut, beberapa alat bantu mestinya tersedia, seperti kartu huruf, cat, bak pasir, huruf timbul, dan alat bantu lain yang dapat diraba. Ada dua macam metode mengajar yang menggunakan pendekatan multisensori, yaitu metode yang dikembangkan oleh Fernald dan Gillingham.

Di dalam metode Fernald, anak dilatih untuk membaca kata secara utuh, yaitu kata yang dipilih dan cerita yang dibuat oleh anak itu sendiri. Sehingga, tidak ada kegiatan memperkenalkan nama huruf atau bunyi secara menyeluruh.

Metode ini mencakup empat tahapan sebagai berikut: (1) tahap 1: anak memilih materi atau kata-kata yang akan dipelajari, sementara guru menuliskannya dengan huruf besar-besar, selanjutnya anak menelusuri kata dengan jarinya; (2) tahap 2: anak belajar dengan melihat kata yang ditulis guru, mengucapkan, dan menyalinnya; (3) tahap 3: guru tidak lagi menuliskan kata, karena anak belajar membaca dari kata-kata yang sudah dicetak; (4) tahap 4: anak sudah mampu mengenali kata-kata baru dengan membandingkannya dengan kata-kata yang sudah dipelajari.

Kemajuannya memang lambat, dan untuk menjaga minat belajar anak, maka anak sendiri yang memilih materi bacaan

Metode Gillingham lebih terstruktur dan berorientasi pada bunyi dan huruf. Setiap huruf diajarkan dengan multisensori. Kartu huruf dibuat dengan warna berbeda, misalnya hitam untuk konsonan dan putih untuk vokal.

Setiap karu memuat satu huruf dalam bentuk kata kunci beserta gambar. Misalnya huruf “b” disajikan melalui kartu bergambar bola dengan tulisan “bola” di bawahnya dan huruf “b” itu sendiri dicetak tebal. Di dalam penerapannya, guru harus banyak menggunakan asosiasi

Secara umum, langkah-langkah pembelajaran membaca dengan metode Gillingham sebagai berikut.

  1. Kartu huruf ditunjukkan kepada anak yang bersangkutan, guru mengucapkan nama hurufnya, sedangkan anak mengulanginya berkali-kali. Jika sudah dikuasai, guru menyebutkan bunyinya dan anak mengulangi, sampai pada akhirnya guru bertanya bunyi huruf dalam kartu huruf tersebut.
  2. Tanpa menunjukkan kartu huruf, guru mengucapkan bunyi sambil bertanya, huruf apakah yang menghasilkan bunyi tersebut.
  3. Secara pelan-pelan, guru menuliskan huruf dan menjelaskan hurufnya. Anak menelusuri huruf dengan jarinya, menyalin, dan menuliskannya di udara, dan menyalinnya tanpa melihat contoh. Pada akhirnya guru memerintahkan anak untuk menulis huruf yang menghasilkan bunyi tertentu.

Proses membaca kata ini sekaligus mengajarkan anak tentang ejaan. Prosedurnya adalah sebagai berikut: (1) mengulangi mengucapkan kata; (2) menyebutkan huruf-hurufnya; (3) menuliskan huruf-hurufnya; dan (4) membaca kata yang telah ditulis.

Sumber :

Thomas L. Madden. 2002. Fire Up Your Learning (Petunjuk Belajar yang Dipercepat untuk Umur 12 Tahun ke Atas). Jakarta: Gramedia.

Demikian ulasan mengenai Pendekatan Multisensori dalam Pembelajaran Membaca Teknis Bahasa Indonesia. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan