Pendekatan Literasi Digital Pembelajaran Daring Belajar Dari Rumah BDR

Pendekatan Literasi Digital Pembelajaran Daring Belajar Dari Rumah BDR

Amongguru.com. Pembelajaran daring (dalam jaringan) merupakan salah satu bentuk Belajar Dari Rumah yang dapat diterapkan guru selama masa pandemi Covid-19.

Akibat pandemi Covid-19, pemerintah melarang pelaksanaan pembelajaran tatap muka, khususnya untuk wilayah yang dinyatakan dalam zona kuning, orange, dan merah.

Di dalam kondisi apa pun, pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan tetap harus dilakukan, tidak terkecuali selama masa darurat Covid-19;

Kemendikbud juga telah menerbitkan menerbitkan Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Di dalam Surat Edaran tersebut disampaikan bahwa Belajar dari Rumah (BDR) selama darurat penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19) tetap dilaksanakan dengan memperhatikan protokol penanganan Covid-19.

Hal yang perlu diperhatikan guru sesuai edaran adalah bahwa kegiatan BDR dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik.

Guru tidak boleh membebani peserta didik dengan tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum.

Aktivitas dan penugasan selama BDR juga disesuaikan dengan minat dan kondisi masing-masing peserta didik.

Dengan demikian, di dalam pelaksanaannya, guru dapat memilih pendekatan Belajar Dari Rumah, apakah akan dilakukan secara daring, luring, atau kombinasi keduanya sesuai ketersediaan dan kesiapan sarana prasarana.

Pendekatan Literasi Digital Dalam Pembelajaran Daring

Apabila guru memilih penyelenggaraan Belajar Dari Rumah dalam bentuk pembelajaran daring, maka perlu memperhatikan pendekatan dalam literasi digital.

Pembelajaran di rumah secara daring (online) dapat menggunakan gawai (gadget) maupun laptop melalui beberapa portal dan aplikasi pembelajaran daring.

Proses pembelajaran daring terdiri atas tatap muka virtual dan LMS (Learning Management System).

Tatap muka virtual dapat dilakukan melalui video conference, teleconference dan diskusi dalam group di media sosial atau aplikasi pesan.

Di dalam tatap muka virtual memastikan adanya interaksi secara langsung antara guru dengan peserta didik.

LMS adalah sistem pengelolaan pembelajaran terintegrasi secara daring melalui aplikasi. Aktivitas pembelajaran dalam LMS, antara lain pendaftaran dan pengelolaan akun, penguasaan materi, penyelesaian tugas, pemantauan capaian hasil belajar, terlibat dalam forum diskusi, konsultasi dan ujian/penilaian.

Contoh LMS, antara lain kelas maya Rumah Belajar, Google Classroom, Ruang Guru, Zenius, Edmodo, Moodle, dan Si Ajar LMS Seamolec.

Baca : Media Pembelajaran Daring Online Program Belajar Dari Rumah

Penyediaan akses internet merupakan salah satu upaya penting pada perkembangan ilmu pengetahuan pada era digital ini, termasuk dalam penyelenggaraan pembelajaran daring.

Sumber belajar yang dibutuhkan dapat diperoleh dengan menggunakan akses internet dengan sangat cepat dan efisien.

Kebutuhan peserta didik dalam memperoleh pengetahuan dan mengasah keterampilan harus ditunjang oleh kesediaan oleh akses internet yang ada.

Apalagi dalam situasi pandemi Covid-19 seperti saat ini, dimana pembelajaran dilakukan di rumah masing-masing peserta didik. Akses internet menjadi pilihan untuk mencari sumber belajar peserta didik dari rumah.

Di dalam melakukan akses internet, maka peserta didik memerlukan literasi digital. Literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi.

Pemanfaatannya harus secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.

Guru juga perlu memahami pendekatan dalam pelaksanaan literasi digital. Pendekatan yang dapat dilakukan pada literasi digital mencakup dua aspek, yaitu pendekatan konseptual dan pendekatan operasional.

Pendekatan konseptual berfokus pada aspek perkembangan koginitif dan sosial emosional, sedangkan pendekatan operasional berfokus pada kemampuan teknis penggunaan media itu sendiri yang tidak dapat diabaikan.

Guru perlu memastikan kemampuan peserta didik dalam mengakses, memahami, serta menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, dan jaringannya.

Penguasaan literasi digital tidak hanya melibatkan kemampuan peserta didik dalam menggunakan perangkat teknologi, informasi, dan komunikasi.

Literasi digital juga melibatkan kemampuan bersosialisasi, kemampuan dalam pembelajaran, dan memiliki sikap, berpikir kritis, kreatif, serta inspiratif sebagai kompetensi digital.

Keluarga diharapkan ikut mendampingi dalam penggunaan media digital sebagai sarana pengembangan literasi. Peran keluarga adalah menjaga keselamatan dan keamanan anak dalam pemanfaatan media digital.

Pendampingan keluarga terutama orang tua kepada anak dalam menggunakan alat elektronik dan mengakses internet di rumah menjadi hal yang sangat penting di tengah bebasnya arus informasi.

Orang tua harus mendampingi anak dalam hal menggunakan internet untuk membantu tugas sekolah, mengawasi fitur yang boleh dipakai dan tidak boleh dipakai, menjaga kesopanan dalam berkomunikasi di media sosial, memastikan informasi yang didapat berasal dari sumber yang tepercaya dan dapat dipertanggungjawabkan.

Selain itu, orang tua juga berkewajiban dalam menjaga agar anak tidak mengirimkan atau mengunggah pesan, gambar, dan konten video yang dapat menyakiti orang lain.

Tinggalkan Balasan