Meugang Tradisi Unik Menjelang Ramadhan di Aceh

Meugang Tradisi Unik Menjelang Ramadhan di Aceh

Amongguru.com. Beberapa daerah di Indonesia memiliki cara tersendiri dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, salah satunya Aceh. Aceh memiliki tradisi menyambut bulan Ramadhan yang dinamakan dengan Meugang.

Meugang adalah rangkaian dari aktivitas membeli, mengolah, serta menyantap daging saping menjelang puasa, tepatnya dua hari sebelum datangnya bulan Ramadhan.

Tradisi menyantap daging ini sekaligus menjadi simbol bahwa semua umat Islam dapat ikut menikmati makanan mewah tanpa memandang status di dalam masyarakat.

Warga Aceh akan meracik daging yang mereka beli di pasar, menjadi menu santap berupa rendang, gulai, digoreng, atau direbus.

Menu daging tersebut selanjutnya akan disantap bersama-sama dengan keluarga dan sanak saudara.

Meugang berasal dari kalimat “makmu that gang nyan”, yang artinya “makmur sekali pasar itu'”. Memang pada saat akan tiba tradisi maugang, menjelang Ramadhan seluruh pasar menjadi sangat ramai dibanding hari-hari biasanya.

Meugang Tradisi Unik Menjelang Ramadhan di Aceh
Meugang Tradisi Unik Menjelang Ramadhan di Aceh

Meugang adalah tradisi penyambutan bulan Ramadhan di Aceh yang sudah berlangsung ratusan tahun lalu. Meskipun sudah sangat lama, tradisi tersebut masih tetap lestari sampai dengan sekarang.

Sebenarnya tradisi Meugang ini tidak hanya diselenggarakan pada saat menjelang bulan Ramadhan saja.

Baca juga :

Penduduk Aceh menggelar tradsi tersebut sebanyak tiga kali dalam satu tahun, yaitu menjelang Ramadhan, perayaan Idul Fitri, dan perayaan Idul Adha.

Karena permintaan daging yang meningkat menjelang tradisi meugang, maka harga daging sapi pun akan naik secara drastis.

tetapi, hal tersebut tidak menjadi masalah bagi masyarakat Aceh, karena mereka sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri untuk membeli daging tersebut.

Sejarah Meugang

Meugang merupakan tradisi unik masyarakat Aceh yang sudah berlangsung sekitar 400 tahun silam. Tradisi ini muncul pada masa Kerajaan Aceh dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1607 sampai dengan 1636.

Pada waktu pemerintahannya, sering diselenggarakan acara pemotongan hewan dalam jumlah banyak dan dagingnya dibagikan ke seluruh masyarakat, terutama menjelang kedatangan Ramadhan.

Sultan Iskandar dikenal sangat mencintai rakyatnya, termasuk kaum fakir miskin,, anak-anak yatim. dan duafa. Ketiganya menjadi tanggung jawab Sultan untuk dipenuhi kebutuhan hidupnya.

Meugang bermula ketika para bangsawan atau hulubalang Aceh berbagi rezeki dengan membagi-bagikan zakat yang berupa makanan dan pakaian kepada kaum fakir miskin dan yatim piatu di Aceh.

Kebiasaan membagikan makanan dan pakaian ini disertai juga penyembelihan sapi yang selanjutnya dagingnya dibagikan kepada mereka secara merata.

Sultan kemudian mengeluarkan aturan tentang pelaksanaan meugang tersebut. Sultan melihat bahwa pada waktu itu, Aceh memiliki kekayaan alam yang melimpah, sehingga Sultan tidak ingin ada rakyatnya yang menderita dalam menyambut bulan Ramadhan.

Di dalam tradisi masyarakat Aceh, menyambut Ramadhan harus dalam bentuk pesta besar dan berkumpul semua anggota keluarga sehingga diadakanlah meugang.

Hal unik dari tradisi meugang ini adalah pada saat perayaan meugang, penduduk yang tinggal diperantauan tidak diperbolehkan mengirim uang untuk membeli daging.

Akan tetapi, mereka harus pulang dengan membawa daging untuk diserahkan kepada orangtua masing-masing.

Apabila di dalam sebuah desa ada orang miskin yang tidak sanggup membeli daging, maka kepala desa akan mengumpulkan uang secara patungan agar warga tersebut dapat membeli dan menyantap daging. Inilah indahnya saling berbagi dalam tradisi meugang.

Tinggalkan Balasan