Klasifikasi dan Ciri-ciri Jamur (Fungi) Beserta Contohnya

Klasifikasi dan Ciri-ciri Jamur (Fungi) Beserta Contohnya

Amongguru.com. Pada awal kemunculannya, jamur (fungi) oleh para ilmuwan dikelompokkan ke dalam tumbuhan. Seiring perkembangn ilmu pengetahuan. maka jamur diklasifikasikan tersendiri, karena ternyata memiliki perbedaan dengan tumbuhan.

Meskipun jamur memiliki kemiripan dengan tumbuhan, akan tetapi jamur tidak memiliki daun dan akar sejati dan juga tidak melakukan proses fotosintesis.

Jamur memiliki bentuk morfologi yang sangat beragam. Jamur ada yang berukuran sangat kecil hingga berukuran besar. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat lebih dari seratus ribu spesies jamur yang tersebar di seluruh dunia.

Untuk lebih mengenal dan memahami tentang jamur, berikut ini ulasan mengenai klasifikasi dan ciri-ciri jamur (fungi) beserta contohnya.

A. Ciri-ciri Jamur (Fungi)

Organisme yang termasuk ke dalam kelompok jamur (fungi) memiliki ciri-ciri, antara lain mempunyai membran inti sel (eukariotik), tidak berklorofil, sehingga tidak dapat menyediakan makananannya sendiri, tersusun atas satu atau banyak sel, dan berkembang biak dengan cara spora.

Berdasarkan cara memperoleh makanannya, jamur dibedakan menjadi tiga, yaitu saprofit, parasit, dan mutualis.

  • Saprofit; adalah jamur yang menyerap zat-zat makanan dari bahan organik yang sudah mati, seperti pohon tumbang, bangkai hewan atau buangan organisme hidup. Contoh jamur : Ganoderma applanatum, Mucor mucedo, Rhizopus pylobolus, Auricularia polytricha.
  • Parasit; adalah jamur yang menyerap makanan dari sel-sel inang yang masih hidup. Jamur ini bersifat patogenik (menyebabkan penyakit). Contoh jamur : Puccinia graminis, Puccinia arachidis, Phakospora pachyrhizi.
  • Mutualis; yaitu jamur yang juga menyerap makanan dari inangnya, tetapi jamur ini memberi keuntungan kepada pasangannya (simbiosis mutualisme). Contoh jamur : Mikoriza (simbiosis jamur dengan akar tumbuhan), Lichenes (simbiosis jamur dan alga).

Pada umumnya, tubuh jamur tersusun ataus benang-benang halus yang disebut hifa. Hifa jamur ada yang tidak bersekat (aseptae) dan ada juga yang bersekat (septae). Jamur dengan hifa tidak bersekat dikenal sebagai jamur benarng (kapang). Contoh jamur ini adalah jamur tempe (Rhizopus oryzae).

Sebagian jamur yang lain, talus tubuhnya berupa benang-benang bersekat dan berkumpul membentuk badan buah dengan ukuran yang cukup besar. Contohnya adalah jamur merang, jamur kupung, dan jamur kayu.

Hifa berbentuk seperti silinder yang berisi sitoplasma dan inti sel di dalamnya. Hifa memiliki dinding yang terbuat dari kombinasi antara kitin, glikogen, atau selulosa. Kumpulan hifa akan membentuk badan yang disebut miselium (jamak : miselia).

Berdasarkan morfologinya, hifa jamur dibedakan menjadi tiga macam sebagai berikut.
  • Hifa aseptat (senosit), yaitu hifa yang tidak mempunyai sekat atau septum. Contohnya adalah Rhizopus oryzae dan Mucor mucedo.
  • Hifa septat uninukleus, yaitu hifa yang disusun oleh sel-sel berinti tunggal dan memiliki sekat yang membagi hifa menjadi ruang-ruang, dan setiap ruang memiliki satu inti sel. Contohnya adalah Puccinia graminis.
  • Hifa septat multinukleus, yaitu hifa yang disusun oleh sel-sel berinti tunggal dan memiliki sekat yang membagi hifa menjadi ruang-ruang, dan setiap ruang memiliki satu inti sel. Contohnya adalah Nectria cinnabarina

Mengenai perkembangbiakan jamur yang dilakukan  secara spora (aseksual), maka spora jamur ini berfungsi untuk menyebarkan spesiesnya dalam jumlah yang besar dengan melalui perantara angin atau air.

Jamur juga dapat berkembang biak secara seksual ketika terjadi perubahan kondisi lingkugan. Ada dua tahapan reproduksi seksual, yaitu plasmogami dan kariogami. Perkembangan secara seksual merupakan salah satu ciri yang dijadikan dasar klasifikasi jamur,
  • Plasmogami; adalah penyatuan sitoplasma dua miselia yang berdekatan. Plasmogami akan menghasilkan suatu tahap dikariotik (n+n), karena nukleus haploid dari masing-masing induk membentuk pasangan, tetapi tidak menyatu.
  • Kariogami; adalah penyatuan dua inti haploid, menghasilkan inti diploid (kromosom berpasang-pasangan). Sel diploid mengalami pembelahan meiosis langsung. Siklus hidup pada sebagian besar jamur meliputi tiga fase, yaitu haploid (n), dikariotik (n + n), dan diploid (2n).

B. Klasifikasi Jamur (Fungi)

Terdapat empat kelompok besar yang tergabung dalam kerajaan kamur, yaitu Phycomycetes, Ascomycetes, Basdiomycetes, dan Deuteromycetes.

  • Phycomycetes

Phycomycetes merupakan jamur yang mempunyai hifa tidak bersekat, sehingga bersifat sifonal (seperti pipa atau bulu). Contoh dari Phcomycetes adalah jamur roti (Rhizopus stolonifer). Roti yang sudah kadaluwarsa sering ditumbuhi oleh jamur yang berwarna hitam atau kehijauan. Warna hitam tersebut sebenarnya adalah jamur yang hidup pada roti tersebut.

Jamur Roti (Rhizopus stolonifer)
  • Ascomycetes

Ascomycetes mempunyai hifa yang bersekat-sekat. Ascomycetes berkembang biak dengan askospora, selain dengan konidium. Contoh dari jamur Ascomycetes adalah Penicillium sp., Neurospora sp., dan jamur tapai (Saccharomyces cereviceae).

Penicilium sp.
Saccharomyces cereviceae
  • Basidiomycetes

Jamur golongan Basidiomycetes mudah diamati karena ukuran tubuhnya yang besar. Basidiomycetes berkembang biak dengan basidiospora, akan tetapi kadang juga berkembang biak konidium.

Beberapa jenis dar jamur ini enak dimakan dan dapat dibudidayakan, contohnya jamur merang (Volvariela colvacea) dan jamur kuping (Auricularia aurieula).

Jamur Merang (Volvariela volvacea)
Jamur Kuping (Auricularia aurieula)

Contoh lain dari golongan Basidiomycetes adalah jamur kandang yang sangat beracun (Amanita muscaria), jamur kayu (Ganoderma applanatum), dan jamur api yang sering menyerang jagung (Ustilago maydis).

Jamur Kandang (Amanita muscaria)
Jamur Kayu (Ganoderma applanatum)
Jamur Api (Ustilago maydis)
  • Deuteromycetes

Jamur golongan Deuteromycetes disebut sebagai jamur yang tidak sempurna karena tidak memiliki alat perkembangbiakan seksual seperti halnya jamur pada umumnya. Jamur njenis ini ada yang saprofit, tetapi ada pula yang parasit pada hewan dan tumbuhan.

Contoh jamur pada golongan Deuteromycetes, antara lain Aspergillus oryzae yang digunakan untuk membuat sake, Monilia sitophyla yang digunakan untuk membuat oncom, Microsporon sebagai jamur penyebab panu, dan Candida albicans penyebab keputihan pada wanita.

Aspergillus oryzae

Jamur hidup di tempat-tempat yang lembab dan kaya bahan organik dengan pH-nya agak asam. Selain itu, jamur juga dapat hidup di lingkungan yang kadar oksigennya rendah dan lingkungan dengan rentang suhu tertentu. Berdasarkan suhunya, jamur dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu sebagai berikut.

 

  • Mesofilik, yaitu jamur yang tumbuh optimum pada suhu 20°30°C.
  • Termofiliki, yaitu jamur yang tumbuh optimum pada suhu di atas 50°C.
  • Psikrofilik (jamur salju). yaitu jamur yang tumbuh optimum pada suhu 0°C atau kurang.

Baca juga artikel terkait berikut :

Demikian ulasan mengenai Klasifikasi dan Ciri-ciri Jamur (Fungi) Beserta Contohnya. Semoga bermanfaat. 

Tinggalkan Balasan