Kaidah Penulisan Soal Uraian dan Pedoman Penskorannya

Kaidah Penulisan Soal Uraian dan Pedoman Penskorannya

Amongguru.com. Soal uraian adalah soal yang jawabannya menuntut peserta didik untuk mengingat dan mengorganisasikan gagasan-gagasan atau hal-hal yang telah dipelajarinya dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan dalam bentuk uraian tertulis.

Bentuk soal uraian dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu soal uraian objektif dan soal uraian non objektif.

Soal uraian objektif adalah soal uraian yang rumusan soal atau pertanyaannya menuntut sekumpulan jawaban dengan konsep tertentu, sehingga penskorannya dapat dilakukan secara objektif.

Soal uraian non objektif merupakan soal uraian yang rumusan soalnya menuntut sekumpulan jawaban berupa pengertian atau konsep menurut pendapat masing-masing peserta didik, sehingga penskorannya sulit dilakukan secara objektif.

Soal uraian memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan soal pilihan ganda. Kelebihan soal uraian antara lain sebagai berikut.

1. Dapat mengukur kemampuan peserta didik dalam hal mengorganisasikan pikiran, mengemukakan pendapat, dan mengekspresikan gagasan dengan kalimatnya sendiri.

2. Jumlah materi yang ditanyakan terbatas dan fokus.

3. Faktor penebak jawaban dapat dikurangi.

4. Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menyatakan pendapat.

5. Penyusunan tes lebih mudah dilaksanakan.

Sedangkan kelemahan dari soal uraian adalah sebagai berikut.

1. Jumlah materi atau pokok bahasannya relatif terbatas,

2. Waktu untuk memeriksa jawaban lama.

3. Penskorannya relatif subjektif.

4. Tingkat reliabilitasnya relatif rendah dibanding soal pilihan ganda.

Kaidah Penulisan Soal Uraian

Kaidah penulisan soal berbentuk uraian, meliputi kaidah materi, kaidah konstruksi, dan kaidah bahasa.

1. Kaidah Materi

a.  Soal harus sesuai dengan indikator, artinya soal harus menanyakan perilaku dan materi yang hendak diukur sesuai dengan tuntutan indikator.

b. Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan (ruang lingkup) harus jelas.

c. Isi materi harus sesuai dengan pengukuran.

d. Isi materi yang ditanyakan sudah sesuai dengan jenjang, jenis sekolah, atau tingkat kelas.

2. Kaidah Konstruksi

a. Rumusan kalimat soal atau pertanyaan harus menggunakan kata-kata tanya atau perintah yang menuntut jawaban terurai, seperti mengapa, uraikan, jelaskan, bandingkan, tafsirkan, buktikan, hitunglah. Jangan menggunakan kata tanya yang tidak menuntut jawaban uraian, misalnya siapa, di mana, dan kapan.

b. Rumusan kalimat soal harus komunikatif, yaitu menggunakan bahasa yang sederhana dan menggunakan kata-kata yang sudah dikenal peserta didik, serta baik dan benar dari segi kaidah Bahasa Indonesia, jangan menggunakan kata atau kalimat yang dapat menimbulkan salah pengertian atau dapat menimbulkan penafsiran ganda.

c. Buatlah petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal.

d. Buatlah pedoman penskoran segera setelah soalnya ditulis dengan cara menguraikan komponen yang akan dinilai atau kriteria penskorannya, besarnya skor bagi setiap komponen, serta rentang skor yang dapat diperoleh untuk soal yang bersangkutan.

e. Hal lain yang menyertai soal seperti gambar, grafik, tabel diagram dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus disajikan dengan jelas, berfungsi dan terbaca, artinya tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda dan juga harus bermakna.

3. Kaidah Bahasa

a. Soal menggunakan bahasa sederhana sesuai kaidah

Rumusan butir soal harus menggunakan bahasa yang sederhana dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

b. Soal untuk skala nasional tidak boleh menggunakan bahasa daerah

Rumusan butir soal jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat (daerah tertentu), apabila soal tersebut akan digunakan untuk beberapa daerah atau nasional.

c. Rumusan soal tidak menimbulkan penafsiran ganda

Rumusan soal menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar,mempertimbangkan segi budaya dan tidak menggunakan kata-kata atau kalimat yang dapat menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian.

Di dalam merakit soal-soal bentuk uraian menjadi suatu tes, perakitan harus mempertimbangkan beberapa hal di bawah ini.

1. Bobot Soal

Bobot soal adalah besarnya angka yang ditetapkan untuk suatu butir soal dalam perbandingan (rasio) dengan butir soal lainnya dalam satu perangkat tes.

Penetuan besar kecilnya bobot soal didasarkan pada hal-hal berikut.

a. Kompleksitas soal.

b. Kepentingan soal dilihat dari berbagai segi.

c. Jumlah bobot keseluruhan pada suatu perangkat tes uraian ditetapkan 100 (untuk memudahkan perhitungan).

2. Pengaturan Nomor Soal

a. Diurutkan berdasarkan Kompetensi Dasar.

b. Soal yang mudah diletakkan pada nomor awal, sedangkan soal yang menuntut jawaban yang rumit diletakkan pada nomor selanjutnya.

Pedoman Penskoran Soal Uraian

Kerangka pemberian skor yang disusun penulis soal segera setelah soal ditulis, sebagai arahan untuk melakukan penskoran.

Baca :

Berisi kriteria atau kemungkinan jawaban benar atau kata-kata kunci, serta besar skor untuk setiap kunci.

1. Soal Uraian Objektif

  • Tuliskan semua kemungkinan jawaban benar atau kunci jawaban dengan jelas.
  • Setiap kata kunci diberi skor 1. Kata kunci : kata, kalimat, bilangan atau pernyataan yang merupakan kunci dari suatu jawaban.
  • Tuliskan skor maksimum yang merupakan penjumlahan dari kata-kata kunci yang diperlukan

2. Soal Uraian Non Objektif

  • Tuliskan garis-garis besar jawaban atau kriteria jawaban agar dapat dijadikan pegangan guru dalam memberi skor. Kriteria jawaban harus dibuat sedemikian rupa, sehingga pendapat yang berbeda dapat diskor menurut kualitas uraian jawabannya.
  • Tetapkan rentang skor untuk tiap garis besar jawaban. Besar rentang skor ditentukan oleh penulis soaL.
  • Tuliskan skor maksimum yang merupakan penjumlahan dari skor tertinggi tiap kriteria.

Demikian kaidah penulisan soal berbentuk uraian dan pedoman penskorannya. Semoga bermanfaat.

 

Tinggalkan Balasan