Gejala Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi), Faktor Penyebab, dan Pencegahannya

Gejala Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi), Faktor Penyebab, dan Pencegahannya

Amongguru.com. Salah satu gangguan dalam sistem peredaran darah manusia dan perlu diwaspadai adalah tekanan darah yang melebihi batas normal (120/80) atau dalam dunia medis disebut hipertensi.

Hipertensi pada umumnya dialami oleh orang dewasa atau orang tua yang memiliki umur di atas 40 tahun.

Ketika tekanan darah terlalu tinggi, akan menimbulkan beban kerja jantung dan dapat menyebabkan kerusakan serius pada arteri (nadi).

Kondisi ini dapat menjadi berbahaya, karena jantung dipaksa memompa darah lebih keras ke seluruh tubuh, hingga bisa mengakibatkan timbulnya berbagai penyakit, seperti stroke, gagal ginjal, dan jantung kororer.

Tekanan darah sendiri dibagi menjaadi tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik. Tekanan darah sistolik adalah tekanan saat jantung memompa darah ke seluruh tubuh.

Gejala Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi), Faktor Penyebab, dan Pencegahannya
Gejala Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi), Faktor Penyebab, dan Pencegahannya

Sedangkan tekanan darah diastolik adalah tekanan saat otot jantung relaksasi, sebelum kembali memompa darah.

Di dalam pencatatannya, tekanan darah sistolik ditulis lebih dahulu dari tekanan darah diastolik, dan memiliki angka yang lebih tinggi.

Berdasarkan kesepakatan perkumpulan dokter jantung di Amerika Serikat, AHA tahun 2017, tekanan darah diklasifikasikan sebagai berikut.

  • Normal: berada di bawah 120/80 mmHg.
  • Meningkat: berkisar antara 120-129 untuk tekanan sistolik dan < 80 mmHg untuk tekanan diastolik.
  • Hipertensi tingkat 1: 130/80 mmHg hingga 139/89 mmHg.
  • Hipertensi tingkat 2: 140/90 atau lebih tinggi.

Penyebab Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi)

Tekanan darah tinggi sering tidak terdeteksi sejak lama dan terjadi selama bertahun-tahun. Banyak penderita tidak menyadari bahwa mereka sedang menderita penyakit tersebut.

Hipertensi pada umunya terjadi tiba-tiba dan tanpa sebab yang jelas. Penyakit ini dapat ditemukan apabila sudah ada tanda-tanda komplikasi. Gejala hipertensi akan muncul jika tekanan darah sudah sangat tinggi.

Tidak jarang seorang penderita hipertensi dapat meninggal secara mendadak, sehingga penyakit ini dapat juga disebut dengan sillent killer.

Secara internal, hipertensi diam-diam dapat merusak jantung, paru-paru, pembuluh darah, otak dan ginjal jika tidak terobati. Hipertensi adalah faktor resiko utama stroke dan serangan jatung.

Pembacaan tekanan darah yang normal akan berada pada 120/80, sementara hasil yang lebih tinggi dan sering terjadi (terus-menerus) dapat menunjukkan hipertensi.

Di dalam kebayakan kasus, penyebab hipertensi banyak yang belum terdeteksi.  Pada tekanan darah 180/110 dan lebih tinggi seseorang mungkin mengalami krisis hipertensi.

Krisis hipertensi ini dapat menyebabkan stroke, serangan jantung, kerusakan ginjal, atau kehilangan kesadaran.

Gejala krisis hipertensi dapat mencakup sakit kepala, kecemasan parah, mimisan, dan sesak napas. Orang Afrika-Amerika lebih cenderung untuk mengidap hipertensi bahkan pada usia muda.

Penelitian genetika menunjukkan bahwa Afrika-Amerika tampaknya lebih sensitif terhadap garam. Pada orang yang memiliki gen yang membuat mereka peka garam, hanya setengah sendok teh garam dapat meningkatkan tekanan darah dengan 5 mmHg.

Natrium sebagai komponen utama garam dapat meningkatkan tekanan darah karena menyebabkan cairan daran menjadi lebih pekat. Keadaan tersebut membuat tubuh menahan cairan yang mengakibatkan beban jantung menjadi lebih besar.

Mengalami kelebihan berat badan (obesitas) juga memberi beban pada jantung untuk meningkatkan resiko tekanan darah tinggi. Itulah sebabnya diet yang bertujuan untuk menurunkan tekanan darah seringkali juga dirancang untuk mengontrol kalori.

Biasanya diet mengurangi makanan berlemak dan menambahkan gula, sambil meningkatkan buah-buahan, sayuran, serat da protein tanpa lemak. Ternyata, kehilangan 5 kg berat badan dapat membuat suatu perbedaan.

Hipertensi juga mungkin terjadi pada seorang ibu hamil saat trimester kedua dari kehamilannya. Tanpa penanganan yang tepat, hal tersebut dapat membatasi aliran darah dan oksigen ke bayi dan otak.

Apabila hal tersebut terjadi, akan menyebabkan kondisi serius yang disebut preeklamsia yang membahayakan ibu dan bayi.  Akan tetapi, apabila penanganannya tepat, setelah bayi lahir tekanan darah ibu biasanya akan kembali normal.

Obat demam dan flu yang mengandung dekongestan adalah salah satu dari beberapa kelas obat yang dapat menyebabkan tekanan darah meningkat.  Stress juga dapat membuat lonjakan tekanan darah.

Pada saat stress kemungkinan seseorang untuk melakukan kebiasaan tidak sehat, seperti pola makan yang buruk, penggunaan alkohol, atau merokok, yang dapat berkontribusi terhadap tekanan darah tinggi dan penyakit jantung.

Pencegahan Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi)

Berikut ini adalah upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya tekanan darah tinggi atau hipertensi.

1. Diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension)

Menurunkan tekanan darah dapat dilakukan dengan menerapkan pola
makan yang lebih baik.

Pola makan DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) melibatkan makan lebih banyak buah, sayuran, gandum, susu rendah lemak, ikan, unggas, dan kacang-kacangan.

Sementara makanan seperti daging merah, lemak jenuh, natrium dan permen harus
dikurangi agar memberikan hasil yang signifikan.

2. Olahraga

Olahraga teratur membantu menurunkan tekanan darah. Orang dewasa harus melakukan sekitar 150 menit olahraga intesitas sedang setiap mingu, seperti berjalan cepat, bersepeda, senam aerobik, bahkan berkebun.

3. Diuretik

Diuretik sering menjadi alternatif pilihan apabila perubahan pola makan dan olahraga tidak cukup. Diuretik sering juga disebut “pil air”, membantu tubuh yang kelebihan natrium dan air untuk menurunkan tekanan darah.

Dengan metode in seseorang akan lebih sering buang air kecil. Hal yang perlu  diperhatikan bahwa beberapa diuretik mungkin menghabiskan kalium di dalam tubuh, menyebabkan kelemahan otot, kram kaki, dan kelelahan.

4. Beta-blocker

Beta-blocker bekerja dengan memperlambat denyut jantung, yang berarti bahwa jantung tidak harus bekerja keras. Beta-blocker juga digunakan untuk mengobati kondisi jantung lainnya, seperti denyut jantung abnormal yang disebut aritma.

Beta-blocker mungkin diresepkan bersama dengan obat lain. Efek samping yang ditimbulkan adalah insomnia, pusing, kelelahan, dingin pada tangan dan kaki.

5. Inhibitor ACE

ACE Inhibitor mengurangi pasokan angiotensin II dalam tubuh. Angiotensin II adalah suatu zat yang membuat pembuluh darah berkontraksi dan sempit.

Hasilnya adalah arteri lebih santai, terbuka (membesar), serta menurukan tekanan darah dan sedikit usaha bagi jantung.

Efek samping yang ditimbulkan dapat berupa batuk kering, ruam kulit, atau pusing, dan tingkat kalium yang tinggi. Perempuan hamil dilarang untuk melakukan metode ini.g.

6. Blokir Jalur Kalsium

Blokir jalur kalsium bertujuan untuk memperlambat gerakan kalsium ke dalam sel-sel pembuluh jantung dan darah. Karena kalsium menyebabkan kontraksi jantung kuat, maka obat-obat ini mudah membuat kontraksi jantung dan mengendurkan pembuluh darah.

Obat ini dapat menyebabkan pusing, jantung berdetak cepat, pembengkakan pada kaki dan sembelit. Apabila menggunakan obat ini, maka makanan dan minuman berupa susu, jus anggur dan alkohol harus dihindari karena ada kemungkinan untuk saling berinteraksi.

Baca juga :

Demikian ulasan mengenai Gejala Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi), Faktor Penyebab, dan Pencegahannya. Terima kasih sudah berkunjung dan semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan