Fenomena El Nino dan Dampaknya Terhadap Curah Hujan di Indonesia

Fenomena El Nino dan Dampaknya Terhadap Curah Hujan di Indonesia

Amongguru.com. El Nino adalah sebuah fenomena alam akibat perubahan iklim yang terjadi secara global.

Perubahan iklim ini disebabkan oleh memanasnya suhu di permukaan perairan Pasifik, khususnya bagian tengah dan timur Pasifik.

Fenomena El Nino dan Dampaknya Terhadap Curah Hujan di Indonesia
Fenomena El Nino dan Dampaknya Terhadap Curah Hujan di Indonesia

Peristiwa El Nino biasanya berlangsung sekitar empat tahun sekali, pada penghujung tahun di bulan Desember.

El Nino akan terjadi apabila suhu di laut pasifik bagian tengah dan timur menjadi lebih panas daripada suhu di wilayah lain pada seluruh belahan bumi.

Tercatat sudah lebih dari 23 kali peristiwa El Nino terjadi di bumi, sejak tahun 1950 sampai dengan sekarang.

Proses Terjadinya El Nino

El Nino adalah peristiwa alam yang terjadinya melalui beberapa proses. Berikut ini adalah urutan proses terjadinya El Nino.

1. Peningkatan suhu perairan Pasifik bagian tengah dan timur 

Terjadinya El Nino diawali dengan peningkatan suhu di peraian Pasifik bagian tengah dan timur. Peningkatan suhu ini berakibat pada meningkatnya kelembaban atmosfer di atas wilayah tersebut.

2. Pembentukan awan

Pemanasan suhu di perairan pasifik bagian tengah dan timur serta meningkatkan kelembaman atmosfer di atasnya akan mendorong terbentuknya awan dan juga meningkatkan curah hujan di kawasan tersebut.

3. Terhambatnya pertumbuhan awan bagian barat Pasifik

Setelah terbentuk awan di bagian timur Pasifik, maka wilayah bagian barat samudra Pasifik akan mengalami peningkatkan tekanan udara.

Peningkatan tekanan udara di bagian barat Pasifik ini akan menghambat pertumbuhan awan di atasnya, sehingga akan mengurangi turunnya curan hujan pada wilayah tersebut.

Sebagaimana diketahui bahwa perbedaan tekanan udara pada dua wilayah, akan menyebabkan awan bergerak dari tempat yang tekanan udaranya tinggi menuju ke tempat yang memiliki tekanan udara rendah.

Pergerakan  awan sama dengan arah berhembusnya angin, yaitu bergerak dari tekanan udara tinggi ke tekanan udara rendah. Semakin kecil nilai tekanan udara di suatu daerah, maka akan makin banyak awan yang terkumpul.

Air hujan datang atau jatuh dari awan, karena awan membawa uap air yang kemudian berubah menjadi rintik-rintik hujan. Itulah sebabnya daerah yang tekanan udaranya rendah memiliki curah hujan yang tinggi.

Dampak El Nino terhadap Curah Hujan di Indonesia

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa salah satu penyebab kekeringan di Indonesia adalah adanya fenomena El Nino.

Artinya, fenomena alam El Nino akan menyebabkan rendahnya curah hujan di beberapa tempat di Indonesia.

Kenaikan suhu permukaan laut di daerah pasifik bagian tengah dan timur membawa dampak udara kering dan panas.

Dampak El Nino terparah pernah terjadi sekitar tahun 1982-1983 dan 1997-1998. Pada saat itu, El Nino membuat sebagian belahan bumi kekeringan panjang, dan sebagian yang lain justru mengalami musim hujan yang panjang.

Dampak global El Nino menjadikan sebagian wilayah Benua Asia, termasuk Indonesia mengalami kemarau panjang. Fenomena El Nino menyebabkan akumulasi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia berkurang.

Kekeringan akibat El Nino tentu akan mengakibatkan kesulitan air dan memicu terjadinya kebakaran hutan serta bencana asap.

Untuk tahun 2018 inii, menurut BMKG, terdapat beberapa wilayah di Indonesia yang harus mewaspadai musim kemarau akibat El Nino selama tiga bulan ke depan (Desember 2018 sampai dengan Februari 2019).

Wilayah-wilayah yang perlu diwaspadai berdampak akibat El Nino adalah Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan sebagian wilayah Sulawesi Selatan.

Beberapa daerah tersebut berdasarkan catatan BMKG mengalami musim hujan yang terlambat dibandingkan daerah lainnya di Indonesia.

Demikian ulasan mengenai Fenomena El Nino dan Dampaknya Terhadap Curah Hujan di Indonesia. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan