Fase Siklus Menstruasi pada Wanita dan Faktor yang Memengaruhinya

Fase Siklus Menstruasi pada Wanita dan Faktor yang Memengaruhinya

Amongguru.com. Menstruasi merupakan peristiwa peluruhan dinding rahim (endometrium) karena sel telur yang tidak dibuahi. Menstruasi atau haid merupakan penanda seorang wanita memasuki usia pubertas, antara usia 11 sampai dengan 14 tahun.

Menstruasi pada wanita akan terjadi secara berkala setiap bulannya. Siklus menstruasi dapat berbeda-beda antara wanita satu dengan lainnya. Pada umumnya, satu siklus menstruasi berlangsung selama 28 hari. Ada wanita yang siklus menstruasinya pendek dan pula yang siklus menstruasinya panjang.

Siklus menstruasi yang pendek biasanya berlangsung selama kurang lebih 18 hari. Sedangkan siklus menstruasi panjang bisa mencapai 40 hari lamanya.

Meskipun terjadi secara periodik, akan ada masa dimana seorang wanita akan berhenti menstruasi karena sudah tidak lagi memproduksi sel telur. Masa tersebut dinamakan menopause. Menopause biasanya akan dialami oleh wanita yang sudah lanjut usia.

Proses menstruasi terjadi dikarenakan sel telur pada organ wanita tidak dibuahi. Hal ini menyebabkan endometrium atau lapisan dinding rahim yang menebal menjadi luruh. Apabila waktu luruh lapisan dinding rahim telah tiba, maka akan mengeluarkan darah melalui saluran reproduksi wanita.

Menstruasi normal akan mengeluarkan darah sekitar 10 hingga 80 ml tiap harinya. Selain itu, warna darah haid yang normal adalah terang. Menstruasi normal juga ditandai dengan tidak adanya gumpalan pada darah haid.

A. Fase-fase Menstruasi

Menstruasi pada wanita terbagi ke dalam empat fase, yaitu fase mentruasi (hari 1 sampai 5) fase folikular (hari 1 sampai 13), fase ovulasi (hari 14), dan fase luteal (hari 15 sampai 28).

Fase Siklus Menstruasi pada Wanita dan Faktor yang Memengaruhinya
Fase Siklus Menstruasi pada Wanita dan Faktor yang Memengaruhinya

1. Fase Menstruasi

Fase menstruasi terjadi jika sel telur (ovum) tidak dibuahi oleh sperma, sehingga korpus luteum akan menghentikan produksi hormon estrogen dan hormon progesteron. Menurunnya kadar estrogen dan progesteron ini menyebabkan lepasnya ovum dari dinding rahim (endometrium) yang disertai meluruhnya endometrium tersebut, sehingga terjadi pendarahan.

Efek psikis dari menurunnya hormon estrogen adalah wanita menjadi sensitif dan mudah marah selama menstruasi berlangsung. Fase menstruasi ini berlangsung selama kurang lebih lima hari. Banyaknya darah yang keluar selama masa menstruasi berkisar antara 30 – 40 ml tiap hari.

Darah menstruasi akan keluar lebih banyak pada hari pertama hingga ketiga. Pada rentang waktu tersebut, biasanya wanita akan mengalami nyeri perut. Nyeri di bagian perut ini disebabkan karena konstraksi pada rahim akibat peningkatan hormon prostaglandin selama berlangsungnya menstruasi.

Kontraksi yang kuat pada rahim dapat menyebabkan suplai oksigen ke organ tersebut tidak berjalan lancar. Kurangnya asupan oksigen ini yang menyebabkan kram atau nyeri perut selama menstruasi. Sebenarnya kontraksi ini juga berperan dalam mendorong meluruhnya endometrium keluar menjadi darah menstruasi.

Pada saat terjadi penurunan hormon estrogen dan progesteron, maka di waktu yang sama, hormon perangsang folikel (FSH) mulai meningkat dan memancing perkembangan folikel (kantong indung telur) baru di dalam ovarium. Akan tetapi, dari beberapa folikel yang berkembang tersebut, hanya ada satu folikel yang terus berkembang akan memproduksi estrogen.

2. Fase Folikular

Fase folikular merupakan langkah untuk pemulihan dari fase menstruasi yang pertama. Fase folikular ditandai dengan pelepasan hormon Follicle Stimulating Hormone (FSH) oleh kelenjar hipofisis yang terletak di otak. Hormon FSH akan merangsang sel-sel telur dalam ovarium untuk tumbuh dan matang.

Sel telur akan matang di dalam kantung yang disebut folikel. Sel telur akan mencapai kematangan pada hari ketiga belas.

Pada saat sel telur matang, folikel mengeluarkan hormon estrogen yang merangsang rahim untuk membentuk kembali lapisan pembuluh darah dan jaringan lunak baru yang disebut endometrium.

Fase folikuler dimulai dari hari pertama sampai dengan hari ketiga belas selama siklus menstruasi. Pada fase ini, hormon estrogen dan progesteron yang pada fase sebelumnya menurun, perlahan mulai meningkat kembali. Peningkatan kedua hormon tersebut akan memberikan dorongan energi, meningkatkan percaya diri dan suasana hati.

3. Fase Ovulasi

Fase ovulasi terjadi pada hari ke-14. Pada fase ini, otak akan memerintah hormon Luteinizing Hormone (LH) untuk melepaskan sel telur yang sudah matang dari folikel ke saluran tuba (tuba fallopi) dan akan bertahan selama 24 jam.

Pada fase ovulasi, hormon estrogen dan progesteron berada di puncaknya, sehingga meningkatkan efek psikis dari fase sebelumnya (folikuler). Hal tersebut berdampak pada meningkatnya percaya diri serta libido.

4. Fase Luteal

Fase terakhir dari siklus menstruasi adalah fase luetal. Fase ini terjadi pada hari kelima belas sampai dengan siklus menstruasi terakhir. Pada fase ini, bekas folikel yang telah ditinggalkan sel telur pada masa ovukasi akan membentuk korpus luteum yang menghasilkan hormon progesteron.

Pada fase luteal, hormon estrogen akan mengalami penurunan dan sebagai gantinya tubuh mulai memproduksi progesteron. Hormon progesteron merupakan hormon anti kecemasan alami, sehingga wanita akan berada pada suasana perasaan yang lebih stabil dibanding fase ovulasi.

Rendahnya jumlah hormon estrogen dan hormon progesteron akan menyebabkan jaringan penyusun dinding rahim (endometrium) rusak dan pecah, sehingga menstruasi akan terjadi kembali.

B. Faktor yang Memengaruhi Menstruasi

Siklus menstruasi dipengaruhi oleh adanya peran beberapa hormon tubuh berikut ini.

  • Estrogen;  hormon yang berperan dalam pada pelepasan sel telur (ovulasi) dalam siklus reproduksi wanita dan membantu penebalan dinding rahim.
  • Progesteron; hormon yang menjaga siklus reproduksi dan menjaga kehamilan, serta . berperan dalam penebalan dinding rahim.
  • Hormon pelepas gonadotropin (Gonadotrophin-releasing hormone-GnRh); horman yang diproduksi oleh otak dan membantu memberikan rangsangan pada tubuh untuk menghasilkan hormon perangsang folikel dan hormon pelutein.
  • Hormon Pelutein (Luteinizing hormone-LH)hormon yang merangsang pembentukan sel telur dan proses ovulasi.
  • Hormon perangsang folikel (Follicle stimulating hormone-FSH); hormon yang berfungsi membantu sel telur di dalam ovarium matang dan siap untuk dilepaskan dan diproduki pada bagian bawah otak.

Baca juga :

Demikian ulasan mengenai Fase Siklus Menstruasi pada Wanita dan Faktor yang Memengaruhinya. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan