Contoh Tesis Pendidikan tentang Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah

Contoh Tesis Pendidikan tentang Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah

Amongguru.com. Berikut ini admin bagikan contoh tesis pendidikan tentang Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah sebagai referensi bagi Anda yang sedang menyusun tesis pendidikan.

Judul :

PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH LAKI-LAKI DAN GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH PEREMPUAN TERHADAP KEPUASAN KERJA GURU DI MTS MA’ARIF NU 1 AJIBARANG KABUPATEN BANYUMAS.

Latar Belakang Masalah

Semakin pesatnya perkembangan di bidang teknologi informasi seperti saat ini merupakan dampak dari semakin kompleksnya kebutuhan manusia akan informasi itu sendiri.

Tetapi, selain segala kelebihan dan manfaat tekonologi informasi tersebut, kita juga harus mampu beradaptasi.

Tanpa adanya kemampuan dalam beradaptasi tersebut, maka justru kita sendiri yang akan menjadi korban teknologi informasi.

Kemampuan beradaptasi terhadap teknologi tersebut tersebut dapat diukur oleh kualitas sumber daya manusianya.

Mulyasa (2005: 4) mengemukakan bahwa diperlukan sumber daya manusia yang memiliki kemauan dan kemampuan untuk senantiasa meningkatkan kualitas secara terus menerus dan berkesinambungan.

Di bidang pendidikan, tuntutan akan kualitas sumber daya manusia merupakan salah satu isu yang terus bergulir.

Kualitas manusia yang dibutuhkan pada masa mendatang adalah yang mampu menghadapi persaingan ketat dengan bangsa lain di dunia. Kualitas manusia tersebut dapat dihasilkan melalui penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.

Berbicara tentang penyelenggaraan pendidikan, adalah wajar apabila masyarakat menginginkan layanan pendidikan yang baik dan bermutu.

Fuat Ihsan (2003: 43) mengemukakan bahwa pendidikan bagi kehidupan manusia merupakan kebutuhan multak yang harus dipenuhi sepanjang hayatnya.

Tanpa pendidikan mustahil manusia dapat berkembang secara optimal. Pendidikan perlu dikelola secara sistematis dan konsisten sesuai dengan lingkungan hidup manusia itu sendiri.

Persoalan dalam menilai mutu layanan pendidikan adalah indikator apa yang bisa dijadikan ukuran ideal dan dapat diterima oleh semua pihak.

Salah satu indikator terciptanya mutu pendidikan di sekolah adalah gaya kepemimpinan kepala sekolah.

Di dalam setiap jenjang pendidikan sangat diperlukan seorang pemimpin yang mampu menerjemahkan berbagai tuntutan yang berkembang.

Pemimpin harus memiliki visi dan misi pengembangan sekolahnya sebagai salah satu upaya mengimplementasikan tujuan yang diharapkan.

Fungsi kepemimpinan merupakan salah satu fungsi manajemen yang tidak dapat dipisahkan. Kepemimpinan tidak hanya sekedar memerintah, menghukum, dan menyuruh.

Kepemimpinan adalah seni dalam memerankan seorang pemimpin yang dapat melaksanakan transformasi kebijakan menjadi sebuah bentuk operasional, sehingga bentuk-bentuk perintah dan pengarahan dapat dimengerti dan dijalankan oleh bawahan.

Fungsi kepala sekolah yang sukses dan efektif bisa saja membawa sekolah menjadi sekolah sukses.

Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan memegang kunci yang sangat penting terhadap keberhasilan dan kegagalan sekolah.

Kepemimpinan yang dibutuhkan sekarang ini adalah sosok pemimpin pendidikan yang mampu membawa lembaga pendidikannya bersaing atau sejajar dengan lembaga pendidikan yang berkualitas.

Sehingga, dibutuhkan seorang kepala sekolah yang profesional untuk dapat membentuk sekolah yang berkualitas.

Suwarwan Danim (2006: 205), mengutarakan bahwa idealnya seorang kepala sekolah harus memiliki kelebihan dibandingkan dengan kelompok yang dipimpinnya.

Hal ini ditegaskan oleh George R. Terry (Kartono, 2006: 47) bahwa seorang pemimpin harus memiliki sifat yang unggul, yaitu: kekuatan badaniah dan rohaniah, stabilitas emosi, pengetahuan tentang relasi insani, kejujuran, objektif, dorongan pribadi, keterampilan berkomunikasi, kemampuan mengajar, keterampilan sosial, dan kecakapan manajerial.

Berdasarkan berbagai kompetensi yang dibutuhkan tersebut, maka baik laki-laki maupun perempuan bisa saja mempunyai kriteria yang dipersyaratkan untuk menjadi kepala sekolah. Keduanya mempunyai peluang yang sama untuk bersaing menjadi kepala sekolah.

Secara logika, kepuasan atau ketidakpuasan kerja muncul dari kemampuan pemimpin memberikan motivasi yang berhubungan dengan hak karyawan.

Menurut Sondang P Siagian (2008:  297), terdapat korelasi yang kuat antara kepuasan kerja dengan tingkat kemangkiran.

Artinya, karyawan yang tinggi tingkat kepuasannya, akan cenderung rendah tingkat kemangkirannya.

Sebaliknya, karyawan yang rendah tingkat kepuasannya akan cenderung tinggi tingkat kemangkirannya. Karyawan yang tidak puas dengan kerja pemimpin akan menggunakan berbagai alasan untuk tidak masuk kerja  atau tidak melaksanakan tugasnya.

Tingkat kepuasan kerja  dapat dilihat melalui kepuasan kerja secara menyeluruh yang dirasakan bawahan berdasarkan apa yang mereka harapkan dengan apa yang diterima, tingkat partisipasi mereka dalam penentuan kebijakan, kepuasan terhadap gaji yang diterima, dan kepuasan terhadap hubungan dalam organisasi.

Kepuasan kerja guru merupakan sasaran penting dalam manajemen sumber daya manusia. Ketika seorang guru merasakan kepuasan  dalam bekerja tentunya akan berupaya semaksimal mungkin dengan  segenap kemampuan yang dimiliki untuk menyelesaikan tugas pekerjaannya.

Di dalam aktivitas kegiatan sehari-hari, guru sebagai individu dapat merasakan adanya kepuasan dalam bekerja.

Kepuasan dan ketidakpuasan guru bekerja dapat berdampak bagi diri individu yang bersangkutan, maupun kepada organisasi  di mana guru tersebut melakukan  aktivitas.

Kepuasan kerja akhir-akhir ini semakin terasa penting artinya dalam lingkup organisasi, termasuk di lingkunga pendidikan.

Menurut Amstrong (2006: 264), kepuasan kerja (job satisfaction) mengacu pada sikap dan perasaan yang dimiliki seseorang mengenai pekerjaan mereka.

Sikap positif dan menyenangkan terhadap pekerjaan mengindikasikan kepuasan kerja. Ketidakpuasan kerja diindikasikan dengan sikap negatif dan sikap tidak menyenangkan terhadap pekerjaan.

Kepuasan kerja mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap produktivitas organisasi baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga  berpengaruh pada pencapaian tujuan organisasi.

Demikian halnya yang terjadi di sekolah, apabila kepuasan kerja guru rendah maka timbul gejala seperti kemangkiran, malas bekerja, banyaknya keluhan guru, rendahnya prestasi kerja, rendahnya kualitas pengajaran, indisipliner guru dan gejala lainnya.

Sebaliknya, kepuasan kerja yang tinggi menandakan bahwa sebuah organisasi sekolah telah dikelola dengan baik dengan manajemen yang efektif dan gaya kepemimpinan kepala sekolah yang dirasakan sesuai.

Guru yang memiliki kepuasan kerja akan bersikap positif sehingga bersemangat dan memiliki motivasi dalam menyelesaikan pekerjaannya, biasanya terlihat pada aktivitas yang dilakukannya secara terus menerus dan berorientasi tujuan.

Sehingga, guru yang termotivasi adalah pegawai yang diarahkan kepada tujuan organisasi. Sedangkan guru yang tidak termotivasi perilakunya tidak berkomitmen terhadap tujuan organisasi.

Di dalam proses kepemimpinan, terdapat sebuah komponen penting yang dikenal dengan gaya kepemimpinan.

Gaya kepemimpinan biasanya dibentuk dari perilaku khusus, yaitu perilaku yang berorientasi pada tugas dan perilaku yang berorientasi pada hubungan.

Sebagian besar guru akan sependapat bahwa kepala sekolah yang disukai adalah luwes, bersahabat, penuh pertimbangan, dan tidak arogan dalam pengambilan keputusan. Kepala sekolah dengan ciri tersebut memiliki gaya kepepimpinan yang berorientasi pada hubungan.

Menurut Herawati dan Basuki (2012), pemimpin perempuan cenderung melakukan pendekatan hubungan yang mengajak bawahannya untuk ikut maju dan berkembang dalam pemikiran serta pemimpin ikut terjun dalam melaksanakan tugas (demokratif).

Sebaliknya, pemimpin laki-laki cenderung memimpin berdasarkan tugas-tugas atasan bawahan (otokratif).

Bawahan dituntut untuk melakukan apa yang diperintahkan atasan tanpa melalui pendekatan emosional antar keduanya.

Perbedaan jenis kelamin seorang pemimpin akan berdampak pada kepemimpinannya. Kepemimpinan kepala sekolah laki-laki dan kepala sekolah perempuan memiliki perbedaan yang mendasar, apabila dilihat dari sifat alamiahnya.

Misalnya, dari gaya berkomunikasi yang dipengaruhi oleh otak. Perbedaan  kecenderungan pemakaian bagian otak oleh laki-laki dan perempuan menyebabkan pola-pola  komunikasi  yang  diterapkan  oleh  keduanya  menjadi  berbeda.

Perempuan  cenderung  lebih  banyak  menggunaan  otak  kirinya  yang penuh  dengan  kekuatan  menghapal  dan  berpikir  sistematis.

Sedangkan laki-laki  lebih  banyak  menggunakan  otak  kanannya  yang  dominan dengan kemampuan geraknya dan cenderung rasional

Persepsi masyarakat tentang kemampuan dan kompetensi kepemimpinan perempuan saat ini masih dianggap kurang, karena kepemimpinan selama ini didominasi oleh laki-laki.

Banyak faktor lain yang menyebabkan perempuan tidak bisa tampil sebagai pemimpin, salah satunya adalah rasa kepercayaan diri yang masih kurang untuk menjadi seorang kepala sekolah.

Perempuan sering dinilai kurang berani mengemukakan pendapat atau mengkomunikasikan ide-idenya, kurang berani berdebat dan kurang berani bersaing, terutama kepada rekan kerja  laki-laki.

Feminisme dan kesetaraan gender sebagai gerakan sosial sebenarnya telah menunjukkan dampaknya secara kuantitatif.

Sudah semakin banyak perempuan yang tampil sebagai pemimpin di ranah publik, meskipun secara kualitatif mereka belum memberikan dampak yang  signifikan.

Hal serupa bisa dilihat di Indonesia, penetapan kuota 30 persen bagi perempuan untuk duduk di parlemen dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 08 tahun 2012 tentang pemilihan umum, ternyata hasilnya pada pemilu 2014 kurang lebih hanya 17,32% saja yang terisi.

Padahal kandidat perempuan yang mencalonkan diri dan masuk dalam daftar pemilih dari partai politik mengalami peningkatan dari 33,6% tahun 2009 menjadi 37% pada tahun 2014.

Apabila melihat komposisi dari 34 Menteri Kabinet Kerja Resuffle Jilid II, maka hanya 9 orang yang berjenis kelamin perempuan.

Pada akhir tahun 2016, tidak ada satu pun gubernur perempuan dari 34 orang gubernur dan wakilnya di Indonesia.

Sedangkan untuk walikota perempuan, hanya terdapat lima orang walikota perempuan di Indonesia.

Kelimanya adalah walikota Surabaya, walikota Tangerang Selatan, walikota Cimahi, walikota Kutaikartenagara, dan walikota Tanjungpinang.

Meskipun sudah didukung dengan situasi yang kondusif sehingga memungkinkan untuk seorang perempuan tampil sebagai pemimpin, seharusnya kuantitasnya dapat lebih banyak lagi.

Jajak pendapat yang dilakukan oleh UNDP (2010: 38), tentang perilaku dan persepsi terhadap partisipasi perempuan secara sosial, ekonomi dan politis mengungkapkan bahwa 77,6% responden laki-laki maupun perempuan memandang bahwa laki-laki harus menjadi pengambil keputusan dan pemimpin di kalangan masyarakat.

Temuan dari survei tersebut menunjukkan bahwa masih ada sebagian masyarakat yang meragukan kemampuan memimpin seorang perempuan.

Penelitian yang dilakukan oleh Porat (Growe, 2002: 4), mengungkapkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah laki-laki cenderung berbeda dengan kepala sekolah perempuan.

Kepala sekolah perempuan memimpin dengan gaya fasilitatif yang memberdayakan. Kepala sekolah laki-laki cenderung memiliki gaya kepemimpinan directive, memberi lebih banyak arahan dan berfokus pada pencapaian hasil.

Pada prinsipnya, laki-laki atau perempuan yang menduduki posisi pemimpin menghadapi tantanga-tantangan yang terjadi selama menjadi pemimpin.

Kepemimpinan kepala sekolah yang efektif berdasarkan standar kompetensinya diatur dalam Peraturan Menteri Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah.

Sifat-sifat profesional yang seharusnya dimiliki kepala sekolah, yaitu kecerdasan, keteladanan, kepercayaan diri, kemampuan memotivasi, ketekunan, integritas, dan kemampuan bersosialisasi.

Banyak guru-guru perempuan yang tidak memiliki ambisi untuk memimpin sebuah sekolah. Peran perempuan sebagai seorang ibu menjadi salah satu pertimbangan, karena adanya kemungkinan tidak bisa menyeimbangkan peran antara keduanya.

Terdapat beberapa sekolah yang pernah atau sedang dipimpin oleh seorang perempuan. Akan tetapi, tidak semua guru mempunyai persepsi yang sama terhadap kepemimpinan perempuan tersebut.

Ada guru yang memiliki persepsi yang positif, negatif, atau netral dan tidak mempermasalahkan jenis kelamin.

Perbedaan persepsi guru-guru terhadap kepemimpinan perempuan di dalam sebuah lembaga pendidikan terkait pada sikap, gaya atau model, dan  kemampuan manajerial dari seorang pemimpin perempuan tersebut.

Sedangkan dari sisi internal individu, persepsi seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya motif, kepentingan, minat, pengalaman, dan pengharapan individu.

Konteks situasi yang berupa keadaan sosial-budaya dan agama termasuk faktor lain yang mempengaruhi cara seseorang mempersepsikan kepemimpinan kepala sekolah perempuan.

Hasil observasi awal terhadap MTs Ma’arif NU 1 Ajibarang kabupaten Banyumas, ditemukan bahwa rata-rata tingkat kemangkiran guru mencapai 12% di bawah kepemimpinan kepala sekolah laki-laki dan 20% untuk guru di bawah kepemimpinan kepala sekolah perempuan.

Menurut Winaya (dalam Ardana, 2012), tingkat absensi tergolong kurang baik jika berada di bawah 2-3%.

Sesuai observasi tersebut, mengindikasikan adanya permasalahan kerja  guru, baik yang berada pada pengaruh kepemimpinan kepala sekolah laki-laki maupun perempuan.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka peneliti memandang perlu untuk mengkaji gaya kepemimpinan yang cenderung diperankan oleh kepala sekolah, baik laki-laki maupun perempuan dan dampaknya terhadap kepuasan kerja  guru, melalui penelitian yang berjudul Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah Laki-laki dan Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah Perempuan terhadap Kepuasan Kerja Guru di MTs Ma’arif NU 1 Ajibarang Kabupaten Banyumas.

Contoh tesis pendidikan tentang gaya kepemimpinan kepala sekolah di atas secara lengkap dapat Anda unduh di bawah ini.

Baca juga : Contoh Tesis Lengkap PAI Peranan Keluarga Terhadap Pembentukan Karakter Anak.

Demikian Contoh Tesis Pendidikan tentang Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan