Contoh Skripsi Lengkap PKn SD Peranan Museum Ranggawarsita

Amongguru.com. Contoh Skripsi Lengkap PKn SD Peranan Museum Ranggawarsita.

PERANAN MUSEUM RANGGAWARSITA DALAM PEMBELAJARAN SISWA SD/MI SE-KOTA SEMARANG

BAB I

PENDAHULUAN

 A.  Latar Belakang

Setelah era sentralisasi berakhir dan digantikan dengan desentralisasi, maka di negara kita muncul gejala minat sebagian masyarakat dan pemerintah daerah untuk mendirikan museum. Semangat ini, di satu sisi, sangat menggembirakan terutama untuk menambah jumlah museum yang ada.

Tetapi di sisi lain, semangat mendirikan museum, secara umum tidak dilandasi oleh pengertian bahwa mendirikan sebuah museum berarti mendirikan pula sebuah institusi pendidikan. Museum dan pendidikan adalah sama seperti dua sisi mata uang, tidak dapat dipisahkan.

Terdapat nilai dasar yang menjadi fondasi dari pendirian museum, yaitu masyarakat disadarkan akan tingginya nilai yang terkandung dalam koleksi museum dan memberi kesempatan untuk memperluas wawasan dan meningkatkan kualitas pendidikan mereka.

Pada masa lalu museum masih sering dipandang sebagai tempat penyimpanan barang kuno yang gelap dan menyeramkan. Pengelola museum masih sepenuhnya berorientasi pada koleksi museum. Mereka pada waktu itu memperlakukan pengunjung seperti menggiring ke ruangan keramat dan mistis.

Banyak larangan yang diberlakukan untuk keamanan koleksi museum, sehingga masyarakat makin menjauh dari museum. Dewasa ini museum telah berorientasi kepada pengunjung dengan tidak mengabaikan faktor keamanan koleksi.

Museum merupakan sarana untuk masyarakat memperoleh informasi, edukasi, dan rekreasi tentang alam dan benda budaya serta perkembangannya.

Museum hakekatnya adalah milik masyarakat dunia. Museum bukan milik pribadi, kelompok, ataupun pemerintah. Kehancuran suatu museum dan koleksinya tidak hanya menimbulkan kesedihan bagi warga setempat, tetapi juga merupakan duka masyarakat dunia.

Sehingga, hanya orang yang kurang berbudaya dan kurang beradab yang mengabaikan keberadaan museum. Banyak hal yang perlu dibenahi agar masyarakat senang berkunjung ke museum.

Museum merupakan salah satu sarana untuk pembinaan dan pelestarian budaya bangsa. Dalam museum, benda-benda warisan budaya dikelola dan dipelihara dengan baik, sehingga dapat dilihat oleh penerus bangsa.

Museum dapat berfungsi sebagai pengawal warisan budaya, yang artinya bahwa warisan budaya tersebut ditampilkan kepada masyarakat. Museum dapat disebut sebagai cagar budaya jika ia melestarikan warisan budaya dan menampilkannya kepada masyarakat (Sumardjo, 1997: 21).

Sampai saat ini museum belum dimanfaatkan dengan optimal, terutama jika dikaitkan pada fungsi museum sebagai sebuah media pendidikan dan informasi. Tujuan atau tugas pendidikan yang sangat penting diemban oleh museum, saat ini belum menjadi prioritas.

Orientasi bahwa museum hanya sebagai tempat meletakkan benda-benda bersejarah tentu saja perlu diubah. Museum tidak hanya dijadikan sebagai gudang penyimpanan benda bersejarah.

Kekayaan dan variasi koleksi yang dimiliki museum, mampu memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada siswa. Pemanfaatan museum sebagai media dan sumber belajar perlu terus ditingkatkan.

Asnan Sabirin (2004) berpendapat bahwa museum sebagai lembaga yang salah satu kegiatannya berorientasi kepada pelayanan publik terutama dengan koleksi yang dimiliki, bisa menjadi media pendidikan dan sumber belajar, terutama jika dikaitkan untuk mempercepat pencapaian tujuan pembelajaran.

Pencapaian suatu proses belajar pada hakikatnya merupakan proses pembentukan tingkah laku, baik menyangkut yang bersifat kognitif (pengetahuan), psikomotorik (keterampilan), maupun afektif (nilai dan sikap). Apabila museum dimanfaatkan secara terencana, maka akan membantu guru untuk pencapaian tujuan tersebut.

Kunjungan ke museum selain dapat membantu untuk mendapatkan pemahaman yang lebih nyata tentang materi-materi pembelajaran di sekolah, juga akan dapat menambah wawasan kesejarahan dan wawasan budaya bagi siswa.

Langkah ini perlu dilakukan agar proses pembelajaran berlangsung tidak monoton atau lebih bervariasi. Selain itu, untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran, siswa dapat diberikan tugas menuliskan salah satu aspek yang menjadi fokus perhatian atau ketertarikannya ketika mengunjungi museum, kemudian mendiskusikannya di kelas. Dengan demikian, proses pembelajaran di kelas yang dialogis dan komunikatif dapat tercipta.

Secara umum kunjungan ke museum memiliki arti penting sebagai upaya untuk meningkatkan khasanah dan kebanggaan siswa terhadap budaya bangsa, memupuk rasa cinta tanah air, dan mempertebal semangat kebangsaan.

Sedangkan secara khusus, tujuan kunjungan ke museum adalah mengenalkan dan memperlihatkan secara langsung kepada siswa tentang objek-objek  pembelajaran di museum yang relevan dengan materi pembelajaran.

Demikian pentingnya fungsi museum, menjadikan peneliti tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang fungsi museum sebagai media pembelajaran siswa, dalam perannya sebagai media edukasi, media informasi, dan media rekreasi, khususnya bagi siswa sekolah dasar.

Peneliti memilih siswa sekolah dasar sebagai salah satu subjek penelitian, dengan alasan bahwa tingkat kebosanan anak dalam menerima materi pelajaran pada usia tersebut masih tinggi.

Kebosanan siswa dalam belajar sejarah disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya cara mengajar guru yang monoton atau kurang bervariasi, kurangnya media pembelajaran, materi yang bersifat abstrak dan sulit mencari contoh.

Di dalam proses pembelajaran, guru perlu mengajak siswa ke luar sekolah, untuk meninjau tempat tertentu atau objek pembelajaran yang lain. Hal ini bukan sekedar rekreasi, tetapi untuk belajar dan memperdalam pelajarannya dengan melihat kenyataan sesungguhnya.

Cara yang dapat digunakan adalah dengan menciptakan pembelajaran yang menyenangkan (Funny Learning).

Istadi (2005: 8) berpendapat bahwa Funny Learning hanya bisa diciptakan melalui beragam kreativitas, baik dalam pemilihan waktu, tempat, penataan suasana hingga pemakaian metode pembelajarannya.

Kreatifitas dapat menghilangkan kejenuhan dan menimbulkan gairah keingintahuan, tantangan, dan semangat baru. Sehingga, semakin beragam suasana pembelajaran bisa dirancang semakin besar potensi otak untuk merekam informasi sebaik-baiknya. Salah satu dari bentuk kegiatan yang dapat dilakukan guru adalah mengajak siswa mengunjungi museum.

Kunjungan ke museum juga merupakan salah satu penerapan strategi pembelajaran yang bersifat kontekstual. Contextual Teaching Learning (CTL) merupakan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa sehingga siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka, bukan menghafalkan fakta.

Selain itu, siswa belajar melalui mengalami bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa.

Dengan rasional tersebut, pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman. Siswa sebagai pembelajar, sedangkan tugas guru mengatur strategi belajar dan membantu menghubungkan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru, kemudian memfasilitasi kegiatan belajar.

Pendekatan kontektual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat (Blanchard, 2001 dalam Direktorat PLP, 2005).

Penerapan pendekatan kontektual di luar kelas salah satunya dapat dilakukan dengan melakukan kunjungan ke museum.

Objek dalam penelitian ini adalah museum Ranggawarsita. Museum Ranggawarsita merupakan museum milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Ranggawarsita adalah nama pujangga besar kerajaan Surakarta.

Nama Ranggawarsita diabadikan di Semarang, sebagai bentuk penghormatan dan pengingat kepada masyarakat bahwa Jawa Tengah perlu mengabadikan nama pujangga besar yang lahir dan berkarya di wilayah Jawa Tengah (Wasino, 200: 1).

B.  Permasalahan

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Bagaimanakah koleksi yang dipamerkan dan program kegiatan edukasi yang diselenggarakan di museum Ranggawarsita?
  2. Bagaimanakah peranan museum Ranggawarsita sebagai media media edukasi, media hiburan, dan media rekreasi bagi siswa SD/MI se-Kota Semarang.

C.  Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Untuk mengetahui koleksi yang dipamerkan di museum Ranggawarsita.
  2. Untuk mengetahui program kegiatan edukatif yang diselenggarakan museum Ranggawarsita.
  3. Untuk mengetahui peranan museum Ranggawarsita sebagai media edukasi, media, hiburan, dan media rekreasi bagi siswa SD/MI se-Kota Semarang.

D.  Manfaat Penelitian

Secara teoritis hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi bagi dunia pendidikan untuk mengembangkan strategi pembelajaran melalui pemanfaatan museum sebagai media pembelajaran, khususnya bagi siswa Sekolah Dasar, sehingga kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan.

Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan pemahaman yang benar tentang koleksi dan juga program edukasi yang ada di museum Ranggawarsita.

Sedangkan dari segi praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada pihak-pihak berikut.

  1. Bagi guru dan sekolah
    • Mengenalkan metode pembelajaran yang tepat dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan sistem pembelajaran melalui pemanfaatan kunjungan ke museum.
    • Meningkatkan profesionalisme guru di bidang pendidikan, dengan terus berupaya mengembangkan strategi pembelajaran yang menarik dan konstruktif bagi siswa.
  2. Bagi siswa
    • Meningkatkan kualitas hasil pembelajaran, baik dari segi kualitatif maupun kuantitatif melalui pemanfaatan museum sebagai media belajar.
    • Meningkatkan kebanggaan terhadap budaya bangsa, memupuk rasa cinta tanah air, dan mempertebal semangat kebangsaan
  3. Bagi Pengelola Museum

Sebagai bahan masukan untuk lebih meningkatkan perannya sebagai media pembelajaran bagi siswa.

E.  Sistematika Penulisan Skripsi

Secara garis besar, skripsi ini terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir skripsi.

1.  Bagian Awal Skripsi

Bagian awal skripsi berisi tentang halaman judul, persetujuan pembimbing, halaman pengesahan, pernyataan, motto dan persembahan, kata pengantar, abstrak, daftar isi, daftar tabel, dan daftar lampiran.

2.  Bagian Isi Skripsi

Bagian isi skripsi terdiri lima bab, yaitu pendahuluan, landasan teori, metode penelitian, hasil penelitian dan pembahasan, dan penutup.

Bab I   Pendahuluan

Pada bab ini memuat latar belakang, penegasan istilah, permasalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika skripsi.

Bab II Landasan Teori

Berisi tentang beberapa konsep teoritis yang mendasari penelitian ini dan selanjutnya dikemukakan kerangka berpikir dan hipotesis.

Bab III Metode Penelitian

Bab ini memuat tentang jenis penelitian, ruang lingkup penelitian, variabel penelitian, sumber data, populasi dan sampel penelitian, validitas instrumen, teknik pengumpulan data, dan teknik analisa data.

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

Pada bab ini memuat tentang hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian.

Bab V Penutup

Bab ini memuat tentang simpulan dan saran.

3.  Bagian Akhir Skripsi

Bagian akhir skripsi terdiri atas daftar pustaka.

Contoh skripsi lengkap PKn SD peranan Museum Ranggawarsita dapat Anda unduh melalui link berikut.

Demikian Contoh Skripsi Lengkap PKn SD Peranan Museum Ranggawarsita. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan