Contoh Laporan Lengkap Karya Ilmiah Remaja Briket Kain Perca

Contoh Laporan Lengkap Karya Ilmiah Remaja Briket Kain Perca 

Amongguru.com. Contoh Laporan Lengkapp Karya Ilmiah Remaja Briket Kain Perca ini merupakan laporan karya ilmiah tentang hasil penelitian dalam Lomba Penelitian Siswa Nasional (LPSN) 2016.

Di dalam Contoh Laporan Lengkap Karya Ilmiah Remaja Briket Kain Perca ini akan diuraikan tiap-tiap bab secara urut dan rinci, mulai dari pendahuluan sampai dengan penutup.

Berikut ini uraian secara lengkap cContoh laporan lengkap Karya Ilmiah Remaja Briket Kain Perca  tersebut.

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang memiliki sejumlah industri tekstil, diantaranya PT Ungaran Sari Garmen, PT Kanasritek, PT Hoplun, dan PT Ungaran Indah Busana. Industri tekstil tersebut memiliki kesamaan karakteristik limbah, yaitu limbah padat berupa potongan-potongan kain sisa jahitan, yang dikenal dengan istilah kain perca.

Bahan ini pada umumnya dianggap sebagai sampah anorganik, yang justru akan menimbulkan masalah apabila tidak dikelola dengan baik.

Kain perca bukan merupakan limbah yang terbanyak dan masih sedikit industri yang mengolah limbah tersebut dibandingkan dengan misalnya limbah kertas atau plastik. Sementara ini, limbah kain perca dimanfaatkan oleh warga sekitar pabrik dalam bentuk daur ulang, antara lain dijadikan produk baru, seperti keset, boneka, dan pengisi bahan kasur (patal). Produk yang dibuat dari limbah kain perca saat ini cenderung mengarah pada kerajinan limbah.

Di dalam mendapatkan limbah kain perca, warga dapat langsung mendatangi kawasan industri tekstil dan membelinya di sana atau melalui jasa pematok khusus limbah kain.

Kemudahan dalam mendapatkan kain perca, memacu tumbuhnya kerajinan limbah di desa-desa sekitar lokasi pabrik, seperti halnya kerajinan keset dan patal di daerah tempat tinggal peneliti, yaitu desa Wonoyoso kecamatan Pringapus kabupaten Semarang.

Meskipun limbah tekstil dari industri garmen tersebut sudah didaur ulang oleh warga menjadi barang bernilai jual, tetapi sisa kain yang tidak dapat digunakan lagi sebagai bahan keset dan patal, tetaplah menjadi sampah. Oleh warga, sampah kain ada yang dibiarkan menumpuk dan ada yang dibakar setelah cukup banyak jumlahnya.

Hal ini tentu menimbulkan masalah tersendiri. Timbunan sampah kain perca selain tidak nyaman dipandang mata, juga dapat menjadi media berkembangnya bibit penyakit.

Kain perca juga akan sulit hancur selama bertahun-tahun lamanya jika tertimbun di dalam tanah, terlebih apabila kain tersebut dibuat dari serat sintetis. Apabila dibakar dalam jumlah besar, akan berdampak pada lingkungan udara disekitarnya.

Asap dan bau yang ditimpulkan dari pembakaran tersebut, dapat mengganggu pernapasan dan iritasi pada mata. Gumpalan kain perca yang bercampur dengan tanah dan sampah plastik dapat menyumbat saluran air, juga dapat mengakibatkan banjir.

Melihat kenyataan tersebut, maka perlu dicarikan solusi untuk mengatasi dampak negatif tumpukan sampah kain perca yang ada disekitar pemukiman warga. Peneliti tergerak untuk memanfaatkan sampah kain perca menjadi bahan berguna lainnya, yaitu sebagai bahan bakar alternatif rumah tangga yang peneliti beri nama “Brikaca”, yang merupakan singkatan dari briket kain perca.

Beberapa alasan peneliti memilih penelitian ini, pertama bahwa masih banyak sampah limbah kain perca sisa pembuatan keset dan patal yang tidak dimanfaatkan dan hanya dibakar sehingga menyebabkan permasalahan lingkungan. Kedua, masih tingginya ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan bahan bakar minyak dan gas, sedangkan di sisi lain persediaan bahan bakar minyak dan gas semakin menipis. Ketiga, kurangnya pengetahuan warga masyarakat tentang pembuatan briket sebagai bahan bakar.

Brikaca diharapkan menjadi bahan bakar alternatif pengganti minyak dan gas, serta dapat digunakan dalam jangka waktu yang cukup lama. Pada umumnya, 1 kg briket mampu untuk memasak 6-7 jam.

Dari segi ekonomi, penggunaan Brikaca ini tentu dapat menghemat biaya pembelian bahan bakar, karena murah. Sedangkan apabila dilihat dari aspek pembuatannya, Brikaca mudah dibuat karena menggunakan cara manual dan bahan-bahannya mudah diperoleh.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut.

  1. Bagaimanakah proses pembuatan Brikaca sebagai bahan bakar alternatif rumah tangga yang ramah lingkungan?
  2. Apakah Brikaca efektif digunakan sebagai bahan bakar alternatif rumah tangga?

C. Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan sebagai berikut.

  1. Mendeskripsikan proses pembuatan Brikaca sebagai bahan bakar alternatif rumah tangga yang ramah lingkungan.
  2. Untuk mengetahui efektifitas Brikaca sebagai bahan bakar alternatif rumah tangga.

D. Manfaat Penelitian

Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber referensi bagi  penelitian dan penulisan karya ilmiah selanjutnya. Hasil yang akan dibahas dalam penelitian ini dapat menjadi gambaran secara konseptual tentang pemanfaatan limbah kain perca menjadi briket sebagai bahan bakar alternatif rumah tangga ramah lingkungan.

Sedangkan secara praktis, penelitian ini akan bermanfaat bagi peneliti, sekolah, dan masyarakat. Bagi peneliti, kegiatan ini dapat memberikan pengalaman dalam melakukan penelitian dan membuat karya ilmiah, khususnya tentang pembuatan briket dari kain perca.

Bagi pihak sekolah, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang baik, untuk pengembangan ilmu pengetahuan di bidang teknik rekayasa. Penelitian ini juga diharapkan bermanfaat bagi masyarakat, yang ingin membuat dan membuka peluang usaha dengan memanfaatkan limbah kain perca menjadi briket bahan bakar.

BAB II TELAAH PUSTAKA

A. Penelitian yang Relevan

Penelitian tentang pembuatan briket telah banyak dilakukan dan bahkan dijadikan sebagai peluang usaha bagi masyarakat, karena pada dasarnya briket dapat dibuat dengan mudah dari berbagai bahan baku organik, seperti  ampas tebu, sekam padi, serbuk gergaji kayu, serta bahan limbah pertanian.

Sedangkan untuk pembuatan briket dari bahan baku anorganik, seperti halnya limbah kain perca masih jarang dilakukan.

Pembuatan briket dari limbah kain pernah dilakukan oleh Khozinatus Sadah, mahasiswi Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang pada tahun 2015, yang diberi nama Brilikon (Briket Limbah Konveksi). Persamaan penelitian Khozinatus Sadah  dengan penelitian ini adalah sama-sama menggunakan kain perca sebagai bahan baku briket.

Perbedaannya terletak pada bahan arang yang digunakan. Peneliti memanfaatkan serbuk gergaji kayu sebagai bahan arang yang diperoleh dari home industry meubel yang tersebar cukup banyak di desa.

Biasanya serbuk gergaji kayu ini tidak dimanfaatkan lagi dan langsung dibakar, sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan. Sedangkan Khozinatus Sadah menggunakan serbuk jerami padi untuk bahan arangnya.

Perbedaan lainnya adalah ukuran kain perca yang peneliti pergunakan lebih keci dan lebih lembut dibandingkan kain perca yang digunakan Khozanatus Sadah. Peneliti beranggapan bahwa kain perca yang dicacah lembut akan lebih memudahkan bercampur dengan arang dan perekat.   .

B. Kajian tentang Briket

1. Pengertian Briket

Briket adalah sebuah blok bahan yang dapat dibakar yang digunakan sebagai bahan bakar untuk memulai dan mempertahankan nyala api. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, briket adalah bata; gumpalan (sebesar kepalan tangan) dari barang lunak yang dikeraskan melalui pembakaran.

Pada dasarnya, briket adalah suatu bahan yang berupa serbuk atau potongan-potongan kecil yang dipadatkan dengan dicampur bahan perekat sehingga menjadi bentuk yang solid. Briket merupakan bahan bakar padat yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif.

Terdapat dua jenis briket, yaitu: (1) briket batubara, terbuat dari batubara; dan (2) briket bioarang, terbuat dari aneka macam bahan hayati atau biomassa. Di dalam penelitian ini, briket yang terbuat dari bahan kain perca dan serbuk gergaji kayu, termasuk dalam briket bioarang.

Bioarang adalah arang (salah satu jenis bahan bakar) yang dibuat dari aneka macam bahan hayati atau biomassa, misalnya kayu, ranting, jerami, dan limbah pertanian lainnya.

Biasanya, bahan-bahan tersebut dianggap sampah yang tidak berguna sehingga sering dimusnahkan dengan cara dibakar. Tetapi, bahan-bahan tersebut sebenarnya dapat diolah menjadi arang, yang selanjutnya disebut bioarang.

Bioarang ini dapat digunakan sebagai bahan bakar yang tidak kalah dari bahan bakar sejenis yang lain. Akan tetapi, untuk memaksimalkan pemanfaatannya, bioarang ini masih harus melalui sedikit proses pengolahan sehingga menjadi briket bioarang.

2. Syarat Briket yang Baik

Syarat-syarat briket yang baik adalah sebagai berikut: (1) permukaannya halus dan tidak meninggalkan bekas hitam ditangan; (2) tidak berasap dan tidak berbau pada saat pembakaran; (3) mempunyai kekuatan atau daya tekan tertentu sehingga tidak mudah pecah sewaktu diangkat dan dipindah-pindah; (4) mempunyai suhu pembakaran tetap, dengan jangka waktu nyala yang relatif lama (6-7 jam); (5) setelah pembakaran dan ada sisa, masih mempunyai kekuatan  tekan sehingga mudah dikeluarkan dari dalam tungku atau dipindahkan ke tempat lain; (6) hasil pembakaran tidak mengandung gas karbon monoksida dengan kadar tinggi; dan (7) tidak berjamur apabila disimpan dalam waktu yang lama (Adi Asmara dan Igo, 2007: 34). .

3. Proses Pembuatan Briket

Menurut Sofal Jamil (2015), proses pembuatan briket pada umumnya melalui prosedur sebagai berikut.

a. Penyiapan bahan baku

Bahan baku merupakan sampah atau limbah organik, seperti daun-daun kering, sisa gergaji kayu, tempurung kelapa, dan ampas tebu harus sudah dibersihkan dari bahan bahan lain yang tidak berguna, seperti batu, plastik, dan tanah.

Bahan baku diusahakan sudah kering agar mempercepat proses karbonisasi dan hasil karbonisasi lebih merata (homogen).

b. Karbonisasi (pengarangan)

Bahan-bahan baku dimasukkan ke dalam drum bekas atau wadah dan tutup rapat untuk mengurangi oksidasi. Wadah ditaruh di atas sumber api, bisa kompor, atau perapian dan dipanaskan kurang lebih 5-8 jam, tergantung jumlah bahan yang diarangkan dan derajat pengarangan yang diharapkan.

c. Penggilingan arang

Arang yang terbentuk digiling manual atau dengan alat penggiling tepung atau blender sampai berukuran kecil dan homogen.

d. Penyaringan

Arang yang sudah digiling disaring dengan saringan 0,1 atau 0,5 mm atau saringan mesh atau saringan biasa jika tidak ada. Arang yang tidak lolos saringan dapat digiling kembali.

e. Pencampuran dengan bahan pelekat

Terdapat beberapa perekat yang bisa digunakan, seperti aci (tepung tapioka), tanah liat, getah karet, getah pinus, dan lem kayu. Bahan yamg paling murah dan mudah adalah lem aci, tetapi dapat menimbulkan jamur pada penyimpanan yang lama.

Pembuatan lem aci sendiri adalah dengan mencampurkan tepung tapioka dengan air mendidih dan diaduk-aduk. Setelah dingin, lem aci dicampurkan dengan bahan arang dengan perbandingan 600 cc lem aci untuk 1 kg arang. Campuran tersebut diaduk hingga merata. Lem aci tidak boleh terlalu encer atau terlalu pekat karena akan mempengaruhi sifat mekanik briket.

f. Pencetakan adonan

Adonan antara arang dengan bahan perekat dimasukkan di dalam cetakan dengan ditekan-tekan agar padat dan tidak mudah pecah atau hancur. Cetakan bisa terbuat dari kayu, logam, atau  PVC yang mempunyai lubang di atas dan di bawah agar mempermudah pengeluaran briket.

g. Pengeringan briket

Briket yang sudah dicetak kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari selama 2-3 hari atau di dalam oven selama 4-6 jam sampai benar-benar kering. Selama pengeringan, briket dibolak-balik agar pengeringan merata.

h. Pelapisan dengan bahan nyala

Terdapat beberapa jenis bahan penyala, antara lain lilin cair, getah pinus, spirtus, oli bekas, minyak sawit, dan minyak jarak.Bahan penyala bisa disemprotkan di sekeliling permukaan briket atau briket bisa dicelupkan di dalam bahan penyala. Khusus untuk lilin cair dan getah pinus, dapat dicampurkan bersama-sama dengan arang dan lem selanjutnya dicetak.

i. Uji nyala

Uji nyala digunakan untuk mengetahui kemampuan briket arang sebagai bahan bakar. Idealnya 200 gram briket dapat mendidihkan 2 liter air dalam waktu sekitar 45 menit.

C. Kajian tentang Limbah Kain Perca

1. Pengertian Limbah Kain Perca dan Jenisnya

Kain perca adalah kain sisa guntingan yang berasal dari pembuatan pakaian, kerajinan, atau produk tekstil lainnya. Kain perca merupakan limbah padat anorganik yang sifatnya sulit terurai dalam tanah. Karena sifatnya inilah, maka sampah kain perca dapat menjadi bahan polutan bagi lingkungan sekitarnya.

Jenis-jenis limbah kain perca dari industri tekstil dapat dilihat dari bahan yang digunakan untuk pembuatan konveksi, antara lain sebagai berikut.

a. Cotton

Cotton adalah jenis baha kaos. Sifat bahan ini dapat menyerap keringat dan tidak panas, karena bahan baku dasarnya adalah serat kapas.

b. TC (Teteron Cotton)

Dibandingkan bahan Cotton, bahan TC kurang dapat menyerap keringat. Sedangkan kelebihannya adalah jenis bahan TC lebih tahan kusut dan tidak mudah melar meskipun sudah dicuci berkali-kali.

c. CVC (Cotton Viscose)

Kelebihan dari bahan ini yaitu dari tingkat shrinkage-nya (susut pola) lebih kecil dari bahan Cotton.  Jenis bahan ini juga bersifat menyerap keringat.

d. Polyester dan PE

Bahan polyester terbuat dari serat sintetis atau buatan dari hasil minyak bumi untuk dibuat beberapa bahan berupa serat fiber poly, yang digunakan untuk produk plastik berupa biji plastik.

Karena sifat bahan dasarnya, maka jenis bahan ini tidak dapat menyerap keringat dan panas dipakainya. Untuk menghindari sifatnya yang panas, produsen tekstil melakukan pencampuran dengan viscose, dengan cotton, atau dengan linen. (Erwin Petas, 2013)

2. Manfaat Limbah Kain Perca

Limbah kain perca saat ini lebih banyak dimanfaatkan menjadi barang-barang kerajinan tangan, seperti keset, tas, sarung bantal, dan boneka.

Usaha kerajinan tangan dari kain perca ini lebih banyak bersifat home industry, tetapi pada dasarnya bertujuan untuk mencari keuntungan serta untuk memenuhi kebutuhan atau permintaan konsumen akan suatu produk yang berkualitas dan bermutu.

Sedangkan penciptaan kualitas dan mutu yang baik dengan biaya yang rendah adalah syarat utama jika menginginkan keuntungan yang terus meningkat (Mahendra, 2014). Kain perca dapat dijadikan bahan kerajinan tangan karena murah dan mudah didapat, serta memiliki nilai jual yang tinggi setelah menjadi sebuah kerajinan.

Peneliti mencoba membuat inovasi dengan memanfaatkan kain perca menjadi produk selain kerajinan tangan, yaitu dijadikan briket bahan bakar. Bahan kain perca peneliti peroleh dari sisa kain hasil pembuatan keset dan patal yang sudah tidak digunakan dan menjadi sampah. Pembuatan briket kain perca ini secara umum prosedurnya sama dengan pembuatan briket dari bahan yang lain.

Contoh laporan lengkap Karya Ilmiah Remaja Briket Kain Perca di atas, secara lengkap dapat Anda unduh di bawah ini.

  • Cover, daftar Isi, abstrak Contoh Laporan Lengkap Karya Ilmiah Remaja Briket  Kain Perca (download)
  • Bab 1-V Contoh Laporan Lengkap Karya Ilmiah Remaja Briket  Kain Perca (download)
  • Lampiran Contoh Laporan Lengkap Karya Ilmiah Remaja Briket  Kain Perca (download)
  • PPT Contoh Laporan Lengkap Karya Ilmiah Remaja Briket  Kain Perca (download)

Baca juga :

Demikian Contoh Laporan Lengkap Karya Ilmiah Remaja Briket Kain Perca. Semoga bermanfaat.

 

Tinggalkan Balasan