Ciri-ciri Teori Belajar Konstruktivisme dan Tokoh-tokohnya

Ciri-ciri Teori Belajar Konstruktivisme dan Tokoh-tokohnya

Amongguru.com. Konstruktivisme adalah suatu pendekatan terhadap belajar yang meyakini bahwa orang secara aktif membangun atau menyusun pengetahuannya sendiri dan realitas ditentukan oleh pengalamannya sendiri pula.

Menurut aliran konstruktivis, pengetahuan merupakan konstruksi (bentukan) dari orang yang mengenal sesuatu (skemata). Setiap orang mempunyai skema sendiri tentang apa yang diketahuinya.

Pembentukan pengetahuan adalah proses kognitif dimana terjadi proses asimilasi dan akomodasi untuk mencapai keseimbangan, sehingga tercapai suatu skema baru.

Sesuai teori belajar konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat begitu saja dipindahkan dari pikiran guru kepada siswa. Hal ini berarti bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya sendiri berdasarkan kematangan kognitif yang dimiliki.

Pembelajaran yang mengacu pada teori belajar konstruktivisme lebih memfokuskan pada kesuksesan peserta didik dalam refleksi atas apa yang diperintahkan guru. Siswa lebih didorong untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui kegiatan  asimilasi dan akomodasi.

Teori belajar konstruktivisme berlandaskan pada pembelajaran generatif, yaitu tindakan menciptakan suatu makna dari apa yang sudah dipelajari.

Ciri-ciri Pembelajaran Konstruktivisme

Ciri Pembelajaran konstruktivisme adalah mengutamakan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif, dan produktif berdasarkan pengetahuan terdahulu dan juga pengalaman belajar yang bermakna.

Baca :

Konstruktivisme merupakan landasan berpikir pendekatan kontekstual, dimana pengetahuan dibangun sedikit demi sedikit dan hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit).

Pengetahuan bukan merupakan serangkaian fakta, konsep, dan kaidah yang siap dipraktikkan. Manusia harus mengkonstruksinya terlebih dahulu, sehingga dapat memberikan makna melalui pengalamannya yang nyata.

Dengan demikian, siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, dan mengembangkan ide-ide yang ada.

Di dalam mengkonstruksi pengetahuan tersebut, maka siswa harus memiliki kemampuan awal membuat hipotesis.

Siswa juga perlu memiliki kemampuan untuk menguji hipotesis tersebut, mencari jawaban dari persoalan yang ditemui, mengadakan renungan, dan mengekspresikan ide serta gagasan, sehingga diperoleh konstruksi baru.

Tokoh-tokoh Konstruktivisme

Berikut ini adalah beberapa tokoh penganut aliran konstruktivisme.

1. Jerome Bruner

Jerome Bruner merupakan pelopor aliran psikologi belajar kognitif. Bruner sangat mendorong agar pendidikan mengutamakan pada pengembangan berpikir.

Bruner banyak memberikan pandangan tentang perkembangan kognitif manusia, bagaimana manusia belajar atau memperoleh pengetahuan, menyimpan pengetahuan, dan mentransformasikan pengetahuan tersebut.

Bruner menyatakan bahwa belajar lebih berhasil jika prosesnya diarahkan pada konsep-konsep dan struktur-struktur yang termuat dalam tema yang diajarkan.

Dengan mengenal konsep dan struktur yang tercakup dalam tema yang dibicarakan, maka anak akan memahami materi yang akan dikuasainya tersebut.

Anak juga akan mencari hubungan antar konsep dan struktur tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa materi yang mempunyai suatu pola atau struktur tertentu akan lebih mudah dipahami dan diingat oleh anak.

Siswa harus dapat menemukan keteraturan dengan cara mengotak-atik bahan-bahan yang berhubungan dengan keteraturan intuitif yang sudah dimilikinya.

Di alam belajar, siswa haruslah terlibat secara aktif mentalnya agar dapat mengenal konsep dan struktur dalam materi yang dibicarakan.

Menurut Bruner, di dalam belajar haruslah melibatkan tiga proses yang terjadi hampir selalu bersamaan.

Ketiga proses belajar tersebut, yaitu : (1) Memperoleh informasi baru; (2) Transformasi informasi; dan (3) Menguji relevansi informasi dengan ketepatan pengetahuan.

2. John Dewey

John Dewey berpandangan bahwa sekolah seharusnya mencerminkan kehidupan masyarakat secara lebih besar dan kelas adalah laboratorium untuk memecahkan masalah kehidupan nyata.

Ajaran Dewey menganjurkan agar guru mendorong siswa untuk terlibat dalam proyek atau tugas yang berorientasi pada masalah. Guru juga diharapkan dapat membantu mereka menyelidiki masalah-masalah intelektual dan sosial.

3. Lev Vygotsky

Menurut Vygotsky, perkembangan intelektual dapat ditinjau dari konteks historis dan budaya pengalaman anak.

Selain itu, perkembangan intelektual juga tergantung pada sistem-sistem isyarat yang mengacu pada simbol-simbol yang diciptakan untuk membantu orang berpikir, berkomunikasi, dan memecahkan masalah.

Vygotsky menghendaki adanya setting kelas berbentuk kooperatif antar kelompok siswa dengan kemampuan berbeda-beda, sehingga mereka dapat berinteraksi dan memunculkan strategi dalam memecahkan masalah.

Di dalam proses pembelajaran, Vygotsky menekankan pada perancahan (scaffolding), sehingga semakin lama siswa akan semakin dapat mengambil tanggung jawabn untuk pembelajarannya sendiri.

4. Jean Piaget

Jean Piaget dikenal sebagai tokoh konstruktivisme yang pertama. Piaget menegaskan bahwa penekanan teori konstruktivisme adalah pada proses untuk menemukan teori atau pengetahuan yang dibangun dari realita.

Peran guru dalam pembelajaran menurut Piaget adalah sebagai fasilitator atau moderator. Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai skemata yang dimilikinya.

Proses mengkontruksi pengetahuan menurut Piaget, meliputi skemata, asimilasi, akomodasi, dan keseimbangan.

Skemata adalah sekumpulan konsep yang digunakan  ketika seseorang berinteraksi dengan lingkungan.

Asimilasi merupakan proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya.

Akomodasi terjadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada, sehingga cocok dengan rangsangan tersebut.

Sedangkan  keseimbangan atau ekuilibrasi terjadi antara asimilasi dan akomodasi. Keseimbangan dapat membuat seseorang menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamnya.

Demikian ciri-ciri teori belajar konstruktivisme dan tokoh-tokohnya. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan