Ciri-ciri, Contoh, dan Siklus Hidup Cacing Pita Dilengkapi Gambarnya

Ciri-ciri, Contoh, dan Siklus Hidup Cacing Pita Dilengkapi Gambarnya

Amongguru.com. Cacing pita pada umumnya memiliki struktur tubuh yang pipih memanjang seperti pita dan tertutup oleh kutikula atau zat lilin. Cacing pita dewasa akan mempunyai panjang 5 hingga 10 meter

Berikut ini adalah taksonomi dari cacing pita.

Kingdom : Animalia

Filum : Platyhelminthes

Kelas : Cestoda

Ordo : Cyclophyllidea

Famili : Taeniidae

Genus : Taenia

Cacing pita termasuk hewan multiseluler (terdiri dari banyak sel). Hewan ini memiliki tiga lapisan lembaga, yaitu endoderm (lapisan dalam), mesoderm (lapisan tengah), dan ektoderm (lapisan luar).

Tubuh cacing pita tersusun atas rangkaian segmen-segmen yang dinamakan proglotid. Pembentukan segmen pada cacing pita ini disebut stobilasi.

Pada bagian kepala cacing pita memiliki alat isap yang memiliki kait (skoleks) dan terbuat dari zat kitin. Meskipun mempunyai kait, akan tetapi cacing pita tidak mempunyai mulut, sehingga hewan tersebut menyerap nutrisi menggunakan permukaan tubuhnya.

Reproduksi Cacing Pita

Cacing pita bersifat hermaprodit, karena tiap-tiap bagian proglotidnya memiliki organ reproduksi jantan dan betina.

Hewan hermaprodit adalah hewan yang memiliki dua alat kelamin dalam satu individu (berumah satu).

Sebagian besar hewan hermaprodit tidak bisa bereproduksi sendiri, karena waktu dan proses pematangan gametnya berbeda.

Cacing pita tidak mengalami perkembangbiakan generatif (aseksual) dalam hidupnya.Siklus hidup cacing pita termasuk kompleks, dengan melibatkan setidaknya satu inang perantara dan satu inang primer.

Cacing pita adalah parasit yang berbahaya bagi manusia, misalnya Taenia saginata (cacing pita sapi) dan Taenia solium (cacing pita babi).

Di dalam dunia medis, infeksi cacing pita disebut dengan taeniasis. Meskipun terbilang penyakit umum, taeniasis dapat menyebabkan komplikasi serius, jika tidak diobati dengan cara yang tepat. Larva cacing pita mampu bertahan hidup di dalam tubuh manusia hingga 30 tahun lamanya.

Pada saat manusia mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung telur cacing pita, maka dapat menyebabkan cacing pita masuk ke dalam tubuhnya dan berkembang.

Di dalam tubuh manusia, cacing pita sangat diuntungkan, karena mengambil sari-sari makanan pada tubuh manusia.

Manusia selanjutnya menjadi pihak yang dirugikan, karena sari-sari makanan yang seharusnya digunakan untuk metabolisme menjadi berkurang diserap oleh cacing pita tersebut.

Telur cacing pita yang masuk ke sistem pencernaan juga dapat menyebabkan infeksi usus. Lebih berbahaya lagi jika saat telur cacing pita berhasil keluar dari saluran pencernaan, telur cacing pita dapat memasuki organ lain dan menyebabkan infeksi.

Siklus Hidup Cacing Pita

Berikut adalah siklus hidup dari cacing pita seperti yang dikutip dalam https://hellosehat.com.

1. Telur cacing lepas ke lingkungan

Cacing pita adalah hewan parasit, sehingga hewan ini memerlukan tubuh inang agar dapat berkembang biak. Usus halus manusia adalah satu-satunya tuan rumah bagi T. saginata dan T. solium untuk bertahan hidup.

Cacing pita dewasa berkembang biak dengan cara bertelur. Telur cacing yang telah matang berkembang menjadi larva oncospheres yang masih mengandung telur, kemudian terlepas dari tubuh cacing pita dewasa dan keluar dari anus bersama feses manusia.

2. Infeksi hewan ternak

Saat telur cacing pita keluar dari tubuh manusia, ada kemungkinan telur cacing ini dapat berpindah ke inang lain.

Babi dan sapi adalah dua jenis hewan yang sering menjadi inang dari cacing taenia. Sapi dan babi terinfeksi cacing ini dengan mengonsumsi pangan ternak yang terkontaminasi telur cacing pita.

Di dalam usus binatang, larva oncospheres menetas menjadi embrio cacing, kemudian menyerang dinding usus dan masuk dalam sistem peredaran darah pada hewan tersebut.

Larva kemudian menyebar ke bagian bagian tubuh hewan yang lain, seperti di otot lidah, jantung, hati, sistem limfatik, dan bahu. Embrio cacing pita dapat bertahan selama beberapa tahun pada hewan tersebut.

3. Infeksi manusia

Manusia dapat menelan larva cacing pita yang tersembunyi pada daging hewan yang mentah atau dimasak tidak matang.

Cacing pita juga bisa tertelan pada saat mengonsumsi makanan atau minuman yang tercemar kotoran manusia atau hewan yang mengandung terinfeksi oleh cacing.

Setelah tertelan, scolex (kepala) cacing pita akan menempel kuat ke dinding usus halus dan tumbuh menjadi cacing dewasa yang menumpahkan telur di kotoran manusia yang terinfeksi.

Setelah telur-telur baru bermigrasi ke anus dan masuk ke dalam tinja, kemudian siklus hidup cacing akan berulang kembali.

Di dalam melengkapi referensi Anda tentang sistem reproduksi hewan, silakan baca artikel terkait berikut.

Perkembangbiakan Ikan (Pisces) – (Baca)

Perkembangbiakan Burung (Aves) – (Baca)

Perkembangbiakan Reptil- (Baca)

Perkembangbiakan Katak (Amfibi) – (Baca)

Perkembangbiakan Mamalia – (Baca)

Perkembangbiakan Hydra – (Baca)

Perkembangbiakan Porifera – (Baca)

Perkembangbiakan Coelenterata – (Baca)

Perkembangbiakan Cacing Pipih – (Baca)

Perkembangbiakan Protozoa – (Baca)

Perkembangbiakan Amoeba – (Baca)

Demikian ulasan mengenai ciri-ciri, contoh, dan siklus hidup cacing pita dilengkapi gambarnya. Terima kasih sudah berkunjung dan semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan