Api Unggun: Fungsi, Bentuk, dan Cara Pelaksanaan dalam Kegiatan Kepramukaan

Api Unggun: Fungsi, Bentuk, dan Cara Pelaksanaan dalam Kegiatan Kepramukaan

Amongguru.com. Api unggun dalam pramuka merupakan salah satu bentuk kegiatan di alam terbuka, khususnya pada malam hari.

Kegiatan api unggun dapat mengembangkan aspek-aspek kejiwaan pada peserta didik, sehingga dapat dijaikan sebagai alat Pendidikan Kepramukaan.

Sejak jaman dahulu, api unggun banyak difungsikan sebagai penghangat badan dan pengusir binatang buas.

Selain itu, api unggun juga berguna sebagai media pertemuan untuk bermusyawarah dan bergembira.

Di dalam Kepramukaan, kegiatan api unggun diselenggarakan sebagai acara hiburan dengan suasana yang suka cita. Tujuan dilaksanakan kegiatan api unggun adalah untuk mendidik dan menumbuhkan keberanian serta kepercayaan diri anggota Pramuka melalui cara berpentas.

Api unggun bukan sebagai alat penyembahan atau untuk disembah. Pandangan bahwa api unggun sebagai alat penyembahan, jelas tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ditanamkan dalam Dasa Darma Pramuka ke-satu, yaitu Takwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Api Unggun: Fungsi, Bentuk, dan Cara Pelaksanaan dalam Kegiatan Kepramukaan

Fungsi Kegiatan Api Unggun

Api Unggun: Fungsi, Bentuk, dan Cara Pelaksanaan dalam Kegiatan Kepramukaan

Berikut ini adalah beberapa fungsi dari penyelenggaraan api unggun.

  1. Mempererat persaudaraan
  2. Memupuk kerja sama (gotong royong)
  3. Menambah rasa keberanian dan kepercayaan diri
  4. Membuat suasana gembira dan kebebasan
  5. Mengembangkan bakat dan kreatifitas
  6. Memupuk disiplin bagi pelaku dan penonton

Nilai-nilai tersebut teraplikasikan dalam kegiatan api unggun, mulai dari persiapan pembuatan api unggun hingga pentas yang ditampilkan setelah upacara api unggun.

Tata Cara Pelaksanaan Api Unggun

Tata cara pelaksanaan api unggun adalah sebagai berikut.

  1. Tempat diselenggarakan api unggun adalah medan terbuka, berupa lapangan yang cukup luas, tanah kering dengan permukaan rata.
  2. Apabila api unggun dilaksanakan pada lapangan berumput, maka di tempat yang direncanakan tersebut, rumputnya dipindahkan terlebih dahulu, untuk kemudian ditanam kembali setelah api unggun selesai.
  3. Tempat api unggun berbentuk lingkaran besar dengan api terletak di tengah.
  4. Setelah kegiatan api unggun selesai, lokasi api unggun harus bersih seperti semula, tidak berbekas.
  5. Tidak diperbolehkan untuk merusak lingkungan
  6. Untuk memeriakan suasana, dapat ditampilkan atraksi-atraksi pendek dan tegas dengan alat seadanya.
  7. Tidak diperkenankan gaduh mengeluarkan yel-yel, jika ada regu yang sedang pentas.
  8. Api unggun bukan tempat tontonan, sehingga semua harus ikut bergantian mengisi acara.

Api unggun dapat diikuti oleh pramuka penggalang, penegak dan pandega. Pramuka siaga tidak diperkenankan mengadakan kegiatan Api unggun, karena beberapa hal sebagai berikut.

  1. Cuaca malam hari di alam terbuka sangat rawan bagi kesehatan anak usia siaga
  2. Anak usia siaga belum mampu mengendalikan diri, sehingga sangat menghawatirkan apabila mengikuti Api unggun.
  3. Kegiatan pengganti api unggun untuk siaga dapat dilaksanakan pada siang hari dalam bentuk peseta siaga, panggung gembira, gerak, lagu, dan sejenisnya.

Bentuk-bentuk Api Unggun

1. Bentuk Piramida Segitiga

Cara penyusunannya sebagai berikut.

  • Kayu disusun segitiga sama sisi, makin ke atas segitiganya semakin kecil, sehingga ditengah tumpukan kayu terdapat rongga. Di dalam rongga tersebut diletakkan bahan yang mudah terbakar, misalnya jerami, sekam yang sudah disiram minyak tanah.
  • Rongga inilah yang nantinya akan dijadikan sebagai sumber api yang pertama. Model api unggun ini biasanya dibutuhkan awat kecil (bendrat) untuk menjaga agar tumpukan kayu tidak roboh.

2. Bentuk Piramida Bujur Sangkar

  • Pada dasarnya membuat piramida bujur sangkar caranya sama dengan bentuk piramida segitiga, yang membedakkan terletak pada bentuk bentuk penyusunannya berupa bujur sangkar.
  • Hal yang perlu diingat bahwa model penyusunan piramida adalah model yang semakin ke atas semakin runcing (mengerucut). Model bujur sangkar dalam penataan kayu umumnya ditidurkan. tidak disusun ke atas.

3. Bentuk Pagoda Tegak

  • Bentuk pagoda tegak memungkinkan percampuran kayu basah dan kayu kering, karena kayu basah dan kering dapat ditata tegak.
  • Langkah pertama yang dilakukan adalah pembaca membuat gawang terlebih dahulu sebagai tempat penyandar kayu dari bahan yang tidak mudah terbakar.
  • Setelah itu, kayu disandarkan pada gawang, misalnya kayu atau bambu basah. Di dalam rongga antar kayu diletakkan bahan bakar yang mudah terbakar.

4. Bentuk Pagoda Roboh 

  • Bentuk pagoda roboh adalah bentuk yang paling sederhana yang sering dipratikkan ketika membakar kayu, akan tetapi kita tidak menyadari bahwa bentuk tersebut adalah bentuk pagoda roboh.
  • Cara membuatnya adalah kayu kering ditetapkan di tanah, ujung-ujungnya bertemu di tengah, sehingga pangkalnya di luar membentuk lingkaran. Supaya ujungnya cepat terbakar, ditempat pertemuan tersebut dapat dibuat lubang dan diberi bahan bakar yang mudah terbakar.

5. Bentuk Kursi

  • Bentuk Kursi adalah bentuk api unggun yang jarang temui, karena bentuk ini biasanya digunakan apabila angin bertiup kencang dari satu arah. Langkah membuatnya pun tidak terlalu sulit, akan tetapi sedikit memperlukan kesabaran.
  • Caranya adalah dua kayu basah dipancangkan agak berjauhan dan agak condong ke belakang. Setelah tiang pemancang api unggun sudah dibuat, langkah selanjutnya adalah menyusun kayu-kayu hingga membentuk kursi

Baca juga :

Demikian ulasan mengenai Api Unggun: Fungsi, Bentuk, dan Cara Pelaksanaan dalam Kegiatan Kepramukaan. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan